Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi mengakui situasi yang dihadapi timnya tidak mudah. Sebagai penjaga gawang yang selalu tampil dalam empat pertandingan awal musim ini, Cahya turut merasakan tekanan akibat hasil yang belum sesuai harapan.
Meski demikian, kiper berusia 23 tahun tersebut meyakini PSIM masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Ia meminta situasi saat ini tidak menjadi alasan bagi tim untuk kehilangan kepercayaan diri.
"Pasti saya sama kayak semua pemain, juga pengin menang di setiap pertandingan," ujar Cahya, Rabu (14/10).
Baca Juga: Klaim Jumilah Jos Tenan Efektif Tangani 870 Kg Sampah Plastik Residu Per Hari, Ini Kata DLH Joga
Ia menyadari perolehan satu poin dari empat pertandingan bukanlah hasil yang diharapkan. Namun, Cahya menilai kompetisi masih panjang sehingga PSIM memiliki waktu untuk berbenah dan mengejar hasil yang lebih baik.
"Secara tekanan kami sadar itu, tapi saya percaya kita akan bangkit, kita bisa bertahan dan perjalanan masih panjang," katanya.
Keyakinan tersebut menjadi modal penting bagi PSIM untuk menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya. Evaluasi tentu diperlukan, terutama untuk memperbaiki konsistensi permainan dan mengurangi jumlah gol yang bersarang di gawang.
Baca Juga: Tembus 1,81 Juta Wisatawan, Kulon Progo Bidik Investasi Pariwisata
Delapan gol yang telah bersarang dalam empat pertandingan juga menjadi catatan yang perlu diperhatikan. Meski demikian, angka tersebut tidak serta-merta menjadi tanggung jawab penjaga gawang semata, sebab performa pertahanan merupakan hasil kerja kolektif seluruh pemain.
Bagi Cahya, fokus saat ini adalah membantu PSIM kembali ke jalur positif. Ia menegaskan keinginannya untuk terus mendapatkan menit bermain sekaligus memberikan kontribusi terbaik bagi tim.
Dengan kompetisi yang masih menyisakan banyak pertandingan, PSIM dituntut segera menemukan solusi agar tidak terus kehilangan poin. Keyakinan Cahya terhadap kemampuan tim untuk bangkit kini perlu dibuktikan melalui hasil di lapangan. "Sekali lagi, semua pemain terus bekerja keras," tuturnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo