Loyalitas Sleman Fans mendukung PSS Sleman tak perlu diragukan lagi. Jarak bukan menjadi penghalang. Termasuk pekerjaan. Ada Sleman Fans yang mengundurkan diri dari pekerjaanya supaya bisa away mengawal PSS di Bali kemarin.
Peluit panjang kembali menjadi penanda kekecewaan bagi suporter PSS Sleman. Untuk ketiga kalinya pada awal musim, tim kebanggaan Sleman itu harus menerima hasil yang tidak sesuai harapan. Namun, di tengah rasa kecewa tersebut, dukungan dari salah satu komunitas suporter tidak serta-merta ikut berhenti.
Bagi mereka menang dan kalah merupakan bagian dari sepak bola. Kekalahan boleh membuat kesal, tetapi tidak cukup untuk menghapus kecintaan mereka kepada Super Elang Jawa.
Baca Juga: Jasad Kru Kapal Ditemukan, PFI Desak Basarnas Buka Lagi Pencarian Jurnalis di Selat Sunda
Salah satu suporter asal Kabupaten Magelang, KH menjadi gambaran bagaimana dukungan itu tetap dijalankan. Ia rutin mengikuti PSS, baik ketika bermain di kandang maupun saat harus menjalani pertandingan tandang.
“Nek jenenge cinta ya mau menang apa kalah ya tetap didukung. Di mana pun bermain, InsyaAllah tetap bisa mendatangi,” ujarnya.
Kesetiaan itu tidak hanya terlihat dari suara dukungan di stadion. Ada biaya yang harus dikeluarkan dan waktu yang harus disisihkan untuk mengikuti perjalanan tim.
Saat PSS bertandang menghadapi Bali United, Ia bahkan rela mengeluarkan sekitar Rp1,05 juta untuk transportasi, tiket, dan hotel.
Jika ditambah kebutuhan lainnya, pengeluarannya mencapai sekitar Rp2 juta. Untuk bisa mengikuti pertandingan tandang, ia mengaku harus bekerja lebih keras mengumpulkan uang.
Baca Juga: Air Jadi Beban Baru bagi Warga Bojongsari saat Kemarau, Harus Membeli Rutin Rp 500 Ribu Per Bulan
Perjalanan mendukung PSS bahkan memiliki cerita lain di kalangan anggota komunitas.
Bahkan ia menceritakan seorang rekannya yang rela mengundurkan diri dari pekerjaan karena tidak mendapatkan izin libur untuk menyaksikan pertandingan tandang PSS.
Loyalitas tersebut bukan berarti selalu menerima hasil pertandingan dengan mudah. Kekalahan tetap menghadirkan rasa kecewa, apalagi ketika PSS kembali gagal meraih hasil positif. “Mangkel, jengkel, kecewa banget, tapi tetap cinta,” ungkapnya mengambarkan perasaan yang muncul ketika permainan PSS tidak sesuai harapan.
Salah seorang pendiri komunitas, menyebut kecintaan kepada PSS tidak hilang meskipun performa tim sedang menurun. “Meskipun PSS itu lagi kalah atau turun performanya, rasa cinta kita sama PSS itu nggak bakal hilang,” ujarnya.
Baca Juga: Jumlah Perokok Anak di Kota Jogja Naik, Tembus 660 Jiwa: Dinkes Ungkap Penyebabnya!
Ia bahkan menggambarkan kecintaannya kepada PSS sebagai “cinta mati”. Prinsip tersebut ia ungkapkan melalui kalimat, “PSS dulu baru kamu.
Sikap tersebut membuat kekalahan tidak selalu berakhir dengan menjauh dari klub. Sebaliknya, mereka memilih tetap mengikuti perjalanan PSS sambil menyampaikan kritik dan harapan kepada pemain.
Yang menjadi perhatian mereka adalah bagaimana pemain menjalani pertandingan. Ketika hasil tidak sesuai harapan, mereka tetap ingin melihat pemain menunjukkan keseriusan hingga peluit akhir.
Baca Juga: Stunting di Kot Jogja Turun Signifikan, Kini Jadi 8,24 Persen: Klaim Intervensi Gizi sejak Dini
“Mainnya yang tenanan, karena ini membawa nama PSS Sleman. Kalau dari suporter sudah memberikan dukungan maksimal, tinggal bagaimana pemain berjuang di lapangan,” ujarnya.
Kini, setelah PSS kembali kalah dari Dewa United dan mencatat tiga kekalahan pada awal musim, rasa kecewa masih ada di kalangan suporter. Namun, kekalahan belum mengubah keputusan mereka untuk tetap mengawal PSS. (Septi Sri Hartanti)
Editor : Heru Pratomo