JOGJA – PSIM Jogja harus puas berbagi poin dengan Persita Tangerang setelah bermain imbang 1-1 pada laga perdana BRI Super League 2026/2027 di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Sabtu (5/9/2026) sore.Sempat tertinggal melalui gol Luquinhas pada menit ke-49, Laskar Mataram menyamakan kedudukan lewat Adrian Purzycki pada menit ke-84.
Pertandingan berlangsung cukup berimbang sejak awal. PSIM mencoba menguasai permainan melalui sirkulasi bola dari lini tengah, sedangkan Persita lebih banyak mengandalkan serangan dari sisi sayap mereka.
PSIM memang lebih dominan dalam penguasaan bola, tetapi permainan Laskar Mataram juga belum berjalan maksimal. Sejumlah kesalahan dalam passing membuat PSIM kesulitan mengembangkan permainan.
Baca Juga: Buku Datang ke Sekolah, Fiksi Jadi Favorit Siswa: Perpustakaan Keliling Perluas Akses Sumber Belajar
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel mengakui, timnya memulai pertandingan dengan gugup. Akurasi operan yang rendah membuat salah satu kekuatan utama PSIM justru menjadi kelemahan dalam pertandingan tersebut.
"Kami memulai pertandingan dengan gugup. Akurasi passing kami rendah, banyak bola-bola yang buruk. Kami kesulitan dalam penguasaan bola, padahal itu salah satu kekuatan kami," kata Van Gastel usai pertandingan.
Babak pertama pertandingan berakhir tanpa gol. Persita kemudian membuka keunggulan empat menit setelah turun minum melalui Luquinhas yang memanfaatkan kesalahan koordinasi di lini belakang PSIM.
Setelah kebobolan, PSIM berusaha meningkatkan tekanan. Namun, Persita mampu bertahan dengan garis pertahanan rendah dan menumpuk banyak pemain di area pertahanan.
Baca Juga: 7 Fakta Ikan Lisong, Gizi Tinggi, Ancaman Punah, dan Peran bagi Nelayan
Situasi tersebut membuat PSIM kesulitan menciptakan peluang bersih. Permainan Laskar Mataram juga sempat tidak berkembang hingga akhirnya Van Gastel melakukan perubahan dengan memasukkan beberapa pemain.
Perubahan tersebut akhirnya memberikan energi baru bagi PSIM. Intensitas serangan meningkat dan tekanan terhadap pertahanan Persita semakin kuat. Van Gastel menilai masuknya tiga pemain di timnya menjadi salah satu titik balik permainan PSIM.
"Perbedaan besarnya adalah tiga pemain pengganti. Mereka membawa banyak energi, karakter, dan semangat. Pemain lainnya lalu mengikuti mereka," ujar pelatih asal Belanda tersebut.
Tekanan PSIM akhirnya menghasilkan gol pada menit ke-84. Adrian Purzycki memanfaatkan kemelut di dalam kotak penalti Persita sebelum melepaskan tendangan keras yang mengubah skor menjadi 1-1.
Baca Juga: Buku Datang ke Sekolah, Fiksi Jadi Favorit Siswa: Perpustakaan Keliling Perluas Akses Sumber Belajar
Gol tersebut membuat pertandingan kembali terbuka pada sisa waktu. PSIM berusaha mencari gol kedua, sementara Persita mencoba mempertahankan satu poin yang sudah berada di tangan. Van Gastel menilai hasil imbang merupakan skor yang adil jika melihat keseluruhan pertandingan.
"Secara keseluruhan, kami tidak layak kalah. Saya pikir hasil imbang adalah skor yang adil jika melihat pertandingan ini," ucapnya.
Dari kubu Persita, pelatih Carlos Pena mengakui timnya kesulitan mengontrol tekanan PSIM pada 20 menit terakhir. Setelah sempat unggul, Persita sebenarnya memiliki peluang untuk menggandakan keunggulan, tetapi gagal memanfaatkannya.
"PSIM menciptakan beberapa peluang. Mereka memberi tekanan besar, terutama 20 menit terakhir dengan menempatkan banyak pemain di depan. Sulit untuk memblok dan mengontrol semua pemain mereka," kata Carlos Pena.
Baca Juga: Gus Muwafiq Ngerock di Grebeg Minggir 2026 Usai Pimpin Doa Kerukunan dan Kemakmuran Bangsa
Persita bahkan sempat mendapatkan peluang emas setelah mencetak gol. Namun, kesempatan tersebut tidak berhasil dikonversi menjadi gol kedua yang bisa memperbesar peluang mereka membawa pulang tiga poin.
"Sesaat setelah gol kami, kami mendapat peluang yang sangat jelas melalui Pablo. Itu momen terbaik kami di pertandingan. Jika kami bisa mencetak gol itu, mungkin kami bisa mendapatkan tiga poin," ujarnya.
Sementara itu, pemain Persita Mario Jardel juga mengakui laga perdana tersebut berjalan sulit bagi timnya. Persita sempat berada dalam posisi untuk mengamankan kemenangan sebelum akhirnya PSIM menyamakan kedudukan.
"Hampir saja kami mencuri tiga poin. Tapi, itu-lah sepak bola. Apa pun hasilnya, kami harus tetap bersyukur," kata Mario Jardel.
Baca Juga: Lirik Peluang Ekonomi dari Pekarangan, Rieyadie Raup Rupiah dari Lukisan Pelepah Pisang
Sementara itu, dari kubu PSIM, Adrian Purzycki menganggap timnya masih perlu lebih sabar ketika menghadapi lawan yang memilih menunggu kesalahan.
"Dalam pertandingan seperti ini, kami harus sedikit sabar. Lawan menunggu kesalahan kami. Semakin banyak kesalahan yang kami buat, semakin besar kesempatan lawan masuk ke dalam pertandingan," ujarnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita