JOGJA - Mengawali musim baru BRI Super League 2026/2027 yang akan dimulai 4 September mendatang, jajaran manajemen PSIM Jogja sowan kepada Gubernur yang juga Raja Keraton Jogja Hamengku Buwono (HB) X, Kamis (27/8). Direktur Utama Yuliana Tasno, Manajer Tim Iksan Mahar, Manajer Operasional Wendy Umar, hingga Pelatih Jean Paul Van Gastel hadir ke kompleks Kepatihan.
Pertemuan ini menjadi bagian dari tradisi manajemen Laskar Mataram untuk meminta restu sekaligus menyampaikan kesiapan menghadapi musim kompetisi yang baru. Dalam pertemuan itu, Liana mengungkap bahwa HB X tidak hanya memberikan dukungan secara umum. Namun juga memberikan sejumlah wejangan terkait pengelolaan tim, terutama menyangkut kedisiplinan dan integritas pemain.
Ia mengatakan, salah satu pesan yang disampaikan adalah pentingnya memastikan kedisiplinan pemain tidak berhenti pada aturan yang terlihat di permukaan. Pengawasan terhadap sikap dan integritas pemain dinilai tetap diperlukan sepanjang musim.
Baca Juga: Cerita Van Gastel Menyelami Budaya PSIM, Kenakan Busana Peranakan hingga Bertemu Sultan
"Ngarsa Dalem tadi menyampaikan banyak ya. Tidak hanya dari satu sisi teknis, tapi juga manajerial. Terus dari kepemimpinan saya juga dikasih wejangan," katanya.
Salah satu hal yang disoroti HB X, kata Liana, bahkan disampaikan melalui contoh sederhana mengenai pola makan pemain. Menurut Liana, pesan itu menjadi gambaran bahwa kedisiplinan pemain harus benar-benar dipantau, bukan sekadar menjadi aturan yang ada di atas kertas.
"Contoh pas ngomongin tentang performa, Ngarsa Dalem bilang, itu dilihatin ya anak-anak jangan makan gorengan. Katanya nanti di belakang juga diam-diam dia makan gorengan," ujar Liana sembari tertawa.
Menurut Liana, pesan itu kemudian berulang pada pentingnya pengawasan terhadap kedisiplinan dan integritas para pemain. Hal itu menjadi perhatian manajemen PSIM dalam menghadapi musim kedua mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Baca Juga: Pemprov DIY Jalankan Rekomendasi BKN, Tukar Kursi Eling Kadinas Pariwisata, Atik Karo Perekonomian
"Jadi itu kayak diulang-ulang bahwa kedisiplinan harus terus dipantau. Integritas pemain juga harus dipantau. Hati-hati dalam manage kesebelasan PSIM," lanjutnya.
Selain persoalan tim, HB X juga memberikan pesan kepada Liana mengenai kepemimpinan. Secara pribadi, Liana mengaku mendapat pesan agar dirinya mampu menjaga sikap dalam memimpin klub. "Dari sisi manajerial, tadi Ngarsa Dalem juga memberi arahan saya leadership. Katanya, saya jangan marah-marah," tutur Liana.
Di luar persoalan teknis tim, pertemuan itu juga menjadi momentum bagi manajemen untuk kembali membangun komunikasi dengan gubernur menjelang bergulirnya musim 2026/2027.
Baca Juga: Bukan Cuma Dikasih Bantuan, 50 Penyandang Disabilitas di Jogja Mau Tetap Produktif: Ini Kata Hasto!
Liana menyebut dirinya bersyukur PSIM berada di DIJ yang memiliki pemimpin sekaligus tokoh yang punya perhatian besar terhadap olahraga, termasuk sepak bola.
"Saya sangat bersyukur, karena saya jadi presdir klub sepak bola di Jogja ini, di mana dipimpin seorang gubernur dan juga seorang sultan yang sangat cinta dengan olahraga. Jadi bicaranya nyambung," ujarnya.
Secara garis besar, Liana menyebut kedatangan manajemen bukan sekadar agenda formal. Melainkan bentuk penghormatan terhadap tradisi dan upaya meminta restu sebelum tim kembali berkompetisi di kasta tertinggi.
"Maksud dan tujuan hari ini bertemu Ngarsa Dalem itu ritualnya PSIM, mau meminta doa dan dukungan untuk PSIM berjuang di musim 2026/2027," bebernya.
Baca Juga: Menuju Super League 2026/2027, Van Gastel Siapkan PSIM Sesuai Filosofi Permainan dan Profil Pemain
PSIM sendiri akan menjalani musim kedua di kasta tertinggi setelah berhasil promosi pada 2025 lalu. Menghadapi BRI Super League 2026/2027, Laskar Mataram telah melakukan sejumlah pembenahan komposisi skuad maupun manajemen untuk menghadapi persaingan yang diperkirakan semakin ketat.
Bagi Liana, wejangan HB X sendiri turut menjadi bagian dari bekal nonteknis sebelum PSIM benar-benar memasuki musim kompetisi yang tinggal menghitung hari.
"Saya pribadi sebagai pengabdi saja untuk PSIM Jogja, bahwa saya melakukan seluruh ritual dan kami tetap hormati tradisi, amanah, dan lain-lain dari PSIM," tambahnya. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja