RADAR JOGJA - Xavi Hernandez mengaku tidak ambil pusing dengan statusnya sebagai kandidat ketiga untuk posisi pelatih kepala tim nasional Belanda, saat ia diperkenalkan dalam peran barunya pada hari Selasa.
Direktur teknis Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB), Nigel de Jong, mengungkapkan bahwa Xavi masuk dalam daftar pendek empat kandidat untuk posisi bergengsi tersebut, setelah mantan pelatih Manchester City Pep Guardiola dan Arne Slot yang saat ini belum memiliki klub usai dilepas Liverpool pada akhir Mei.
Keduanya menolak tawaran tersebut dan kandidat lainnya adalah Michael Reiziger, yang melatih tim muda Belanda.
Pelatih baru ini tidak terganggu oleh nama-nama besar yang berada di urutan lebih awal dalam proses seleksi.
Baca Juga: Graham Arnold Teken Perpanjangan Kontrak dengan Irak Hingga Piala Asia 2027
"Yah, posisi itu tidak buruk setelah Guardiola dan Slot. Posisi ketiga. Setidaknya kami... naik podium. Saya tidak peduli," ujarnya.
Xavi, yang kini berusia 46 tahun, tidak memiliki klub sejak meninggalkan posisinya sebagai pelatih Barcelona pada Mei 2024.
Ia menggantikan Ronald Koeman yang hengkang setelah Piala Dunia, di mana Belanda kalah adu penalti melawan Maroko di babak 32 besar.
Karier bermain Xavi dibentuk oleh pelatih-pelatih asal Belanda, dan kini mantan gelandang Barcelona serta timnas Spanyol itu ingin membalas budi sekaligus menyegarkan kembali tim Belanda yang sempat menuai kekecewaan akibat gaya permainan defensif di Piala Dunia.
Baca Juga: Buang Keunggulan Empat Gol, Celtic Tersingkir dari Liga Champions
Louis van Gaal, yang juga pernah melatih Belanda, adalah sosok yang memberikan kesempatan debut bagi Xavi di Barcelona.
Gelandang ini tumbuh dan berkembang di klub asal Catalunya tersebut, tempat filosofi permainan legenda Belanda, Johan Cruyff, masih sangat kental.
Saat diperkenalkan, Xavi tampak kembali mengusung idealisme "total football" ala tim Belanda asuhan Cruyff di era 1970-an ketika ia memaparkan ambisinya terkait gaya permainan tim Belanda.
"Kami ingin... mendominasi permainan dan mengambil inisiatif saat menguasai bola," ujarnya.
Baca Juga: Bila Bencana Melampaui Kapasitas Daerah Otonom, Pusat Jangan Menunggu
"Pada saat yang sama, tujuan kami adalah menunjukkan kepada semua orang sebuah tim yang penuh semangat, hasrat, dan ambisi," jelasnya.
Meski Belanda kerap kesulitan meraih kemenangan di panggung sepak bola terbesar, Xavi memiliki rekam jejak penuh kemenangan.
Saat bermain sebagai motor lini tengah Barcelona, Xavi memenangkan 25 gelar, termasuk empat trofi Liga Champions dan delapan gelar Liga Spanyol.
Ia juga menjadi sosok kunci dalam periode empat tahun kejayaan tim nasional Spanyol, yang memenangkan Piala Dunia 2010 serta Kejuaraan Eropa pada tahun 2008 dan 2012.
Baca Juga: Kawasan Lapangan drh Soepardi Ditata Jadi Sentra Kuliner, 36 PKL Tempati Lapak Baru
Kini, ia ingin melanjutkan kiprah suksesnya bersama Belanda.
"Kami akan mencoba mengubah beberapa hal. Membangun kebiasaan baik dan menghadirkan energi baru," ujarnya.
"Kami akan bekerja dengan penuh semangat, ambisi, dan hasrat agar masyarakat Belanda merasa bangga dengan tim kami," tegasnya.
Ujian pertama Xavi akan tiba pada 24 September di Amsterdam, saat Belanda menghadapi Jerman yang juga memiliki pelatih baru, Jurgen Klopp.
Baca Juga: JAWA POS - RADAR JOGJA, EDISI RABU, 26 AGUSTUS 2026
Mantan manajer Liverpool itu menggantikan Julian Nagelsmann, yang mundur setelah kiprah mengecewakan di Piala Dunia.
"Saya merasa antusias," kata Xavi.
"Saya merasa termotivasi karena, Anda tahu, kami akan menghadapi Jerman dan salah satu pelatih terbaik dalam beberapa tahun terakhir, Jürgen Klopp. Jadi ya, ini adalah tantangan besar sejak awal, tetapi saya yakin kami akan siap," pungkasnya.
Editor : Satria Putra Sejati