Presiden NFF Kecam Pemecatan COO FIFA, Kevin Lamour, Ini Alasannya

Satria Putra Sejati • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:02 WIB
Presiden NFF, Lise Klaveness.
Presiden NFF, Lise Klaveness.

RADAR JOGJA - Presiden NFF, Lise Klaveness menyatakan tindakan FIFA memberhentikan pejabat senior adalah hal yang tidak dapat diterima. Ia juga mendesak para pemimpin lain di badan sepak bola dunia tersebut untuk menolak perintah yang berpotensi merugikan.

Pemecatan Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour, pada Senin malam terjadi 17 hari setelah pernyataannya kepada Associated Press yang mengkritik proyek ekuitas swasta senilai US$20 miliar milik Infantino; kritik yang berujung pada pemecatannya hanya beberapa jam kemudian.

"Sekarang dia disingkirkan begitu saja dan kita diharapkan untuk melupakannya begitu saja. Ini tidak bisa diterima, ini adalah manajemen yang didasarkan pada rasa takut," ujar Klaveness kepada AP dalam sebuah wawancara telepon, seraya menggambarkan Lamour sebagai administrator sepak bola terbaik yang pernah dia temui.

"Kini kita juga harus mendesak pimpinan dan jajaran administrasi FIFA untuk tidak tunduk pada perintah yang Anda tahu tidak sejalan dengan kepentingan sepak bola," tambah Klaveness, yang secara khusus menyoroti Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom.

Baca Juga: Senegal Tunjuk Legenda Prancis Patrick Vieira sebagai Nahkoda Baru Gantikan Pape Thiaw

Klaveness adalah mantan pemain tim nasional Norwegia, seorang hakim di Oslo, dan anggota komite eksekutif terpilih di badan sepak bola Eropa (UEFA) dimana ia terus memperkuat reputasi negaranya sebagai pelopor tata kelola sepak bola yang baik.

Lamour merupakan rekan lama Infantino. Mereka pernah bekerja bersama sebagai pejabat senior di UEFA (2007/2015) dan dalam tim kampanye pemilihan presiden FIFA pada tahun 2016, sebelum Lamour pindah dari UEFA dua tahun lalu untuk mengawasi sebagian besar operasional FIFA di Zurich.

Di tengah krisis yang dihadapi Infantino, kritik tajam Lamour semakin memperparah situasi sulit bagi presiden FIFA tersebut.

Reaksi keras dari UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan badan sepak bola Amerika Utara (Concacaf) dipicu oleh rencana tertutup untuk menjual hak keuntungan Piala Dunia di masa depan kepada sekelompok investor yang dipimpin oleh Joshua Kushner.

Baca Juga: Sering Dianggap Monster Kecil, Bagaimana Cara Menghilangkan Kecoa di Kamar Mandi?

Investasi senilai US$4,2 miliar untuk mengakuisisi 20% saham dalam entitas komersial baru bentukan FIFA itu sedianya akan mendanai penawaran sebesar US$20 juta bagi masing-masing dari 211 federasi anggota nasional FIFA.

Mereka pada dasarnya sudah menguasai badan sepak bola nirlaba tersebut dan seharusnya menghadapi tenggat waktu pertengahan September untuk menyetujuinya.

Pernyataan Lamour pada 31 Juli menyebutkan bahwa staf FIFA telah diperdaya oleh kurangnya keterbukaan Infantino terkait rencana penjualan yang kini batal tersebut, serta menyatakan bahwa mereka layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik daripada sikap meremehkan dan intimidasi.

Eksekutif asal Prancis itu menyerukan kepada para pemimpin sepak bola di seluruh dunia untuk mengambil keputusan yang tepat dan menutup pernyataannya dengan kalimat: "Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah demikian. Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak malam ini."

Baca Juga: DPRD dan Pemkab Kebumen Buat Perda, Dana Cadangan Pilkada Bakal Disiapkan Rp 40 Miliar

"Ini adalah kasus pemecatan, bukan pengunduran diri," ujar Klaveness mengenai kepergian Lamour, seraya mengisyaratkan bahwa tindakan itu dilakukan oleh Grafstrom yang jelas-jelas berada di bawah tekanan presiden.

Dalam sebuah pernyataan, FIFA mengatakan pihaknya berterima kasih kepada Kevin atas pengabdiannya selama dua tahun dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya.

"Pernyataannya diperlukan untuk menghentikan proyek tersebut," kata Klaveness mengenai langkah Lamour.

"Dia mengungkapkan hal yang sudah jelas namun sangat penting; perlu ada seseorang di dalam jajaran staf yang membeberkan cerita itu kepada kami agar kami tahu bahwa masalahnya bukan terletak pada FIFA secara institusi, melainkan pada satu orang saja."

Baca Juga: Jalankan Tugas Penuh Disiplin dan Tanggung Jawab, Bupati Purworejo Apresiasi Tugas Paskibraka

Infantino mengadakan pertemuan dengan jajaran manajemen senior di Rabat, Maroko. Setelah pertemuan tanggal itu, FIFA mengeluarkan pernyataan yang meminta maaf atas sejumlah kesalahan dan menyebutkan bahwa para manajer yang hadir menegaskan kembali dukungan penuh mereka terhadap kepemimpinan Infantino.

"Kami semua menerima laporan saat berada di Maroko; kami tahu bahwa gaya kepemimpinannya menciptakan budaya ketakutan," ujar Klaveness. "Hal itu tidak sejalan dengan kepentingan terbaik sepak bola."

Sebelum munculnya kegaduhan terkait usulan FIFA Forward Enterprise dari Infantino, ia tampak pasti akan terpilih kembali tanpa lawan pada tahun depan di Maroko. Batas waktu bagi kandidat penantang untuk mendaftarkan diri dalam pemilihan tersebut adalah tanggal 18 November.

Baca Juga: Lapas Kelas IIA Magelang Overkapasitas 292 Persen, Kapasitas 221 Orang Dihuni 644

Editor : Satria Putra Sejati
lisa klaveness kevil lamour NFF FIFA gianni infantino