Sosok Ragil Muhammad Badai: Pemilik RMB Apparel di Tengah Kontroversi Slogan PSIM Jogja

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:07 WIB
BERBUNTUT: Permintaan maaf owner Apparel RMB yang plesetkan AYDK dengan AYoDeK di akun Instagram @ragilmbadai. (Foto: Tangkapan layar Instagram ragilmbadai)
BERBUNTUT: Permintaan maaf owner Apparel RMB yang plesetkan AYDK dengan AYoDeK di akun Instagram @ragilmbadai. (Foto: Tangkapan layar Instagram ragilmbadai)

Interaksi antara bisnis merchandise dan fanatisme suporter sepak bola kembali memicu dinamika baru.

Ragil Muhammad Badai adalah pengusaha muda asal Jombang, Jawa Timur, yang dikenal sebagai owner dari merek konveksi dan penuang perlengkapan olahraga, yaitu RMB Apparel.

Nama RMB diambil dari singkatan nama lengkapnya. Usaha ini berfokus pada manufaktur pakaian olahraga, khususnya konsentrasi pada jerseys, pakaian latihan, dan merchandise sepak bola.

Sosok Ragil Muhammad Badai bersama RMB Apparel—lini usaha konveksi yang dibangunnya di Jombang sejak 2018—kini berada di tengah pusaran kritik terkait isu slogan PSIM Jogja.

Sebelum ramai dibicarakan di wilayah Yogyakarta, nama Ragil dan RMB Apparel sudah memiliki rekam jejak cukup tebal di kancah sepak bola Indonesia. 

Baca Juga: 49 Sekolah di Kulon Progo Terima Bantuan Revitalisasi Sekolah Senilai Rp 17,9 Miliar dari APBN

Meski RMB Apparel memiliki rekam jejak mumpuni dengan menyuplai kebutuhan tim papan atas seperti PSBS Biak, Gresik United, dan Malut United FC, reputasi bisnisnya kini diuji oleh gesekan dengan kultur sepak bola lokal.

Penyulut utama gelombang protes ini adalah aktivitas digital Ragil yang memoles slogan identitas PSIM, "Aku Yakin Dengan Kamu" (AYDK), menjadi sebutan "AYoDeK". Isu ini langsung membakar amarah publik, terlebih rumor mengenai penunjukan RMB Apparel sebagai penyedia jersey resmi PSIM musim depan sedang hangat diperbincangkan.

Elemen suporter seperti Brajamusti dan The Maident memandang AYDK sebagai marwah serta warisan sejarah klub, sehingga tindakan menjadikan frasa tersebut sebagai bahan candaan dinilai sangat tidak profesional.

Gelombang penolakan dari suporter pun meluas hingga mengancam keberlangsungan kerja sama bisnis tersebut.

Muncul seruan boikot terhadap produk merchandise resmi apabila manajemen PSIM tetap melanjutkan kemitraan dengan RMB Apparel. Kejadian ini menegaskan kembali bahwa ekspansi komersial dalam dunia sepak bola harus senantiasa berjalan selaras dengan penghormatan terhadap identitas para pendukungnya.

Guna meredam polemik yang kian membesar, Ragil Muhammad Badai akhirnya merilis pernyataan maaf secara terbuka. Ia mengklarifikasi bahwa unggahan tersebut sama sekali tidak bermaksud merendahkan marwah PSIM Jogja atau melukai hati suporter.

Baca Juga: Prediksi Singapura vs Indonesia ASEAN Championship 2026 Malam Ini

Terlepas dari akhir cerita polemik ini, kasus tersebut menjadi catatan penting bagi para pemilik brand olahraga untuk selalu memperhitungkan sensitivitas budaya dan etika komunikasi di industri sepak bola nasional.



Editor : Bahana.
RMB Apparel Ragil Muhammad Badai PSIM Laskar Mataram