RADAR JOGJA - Ketegangan antara UEFA dan FIFA kembali memanas. Konfederasi sepak bola Eropa itu dikabarkan tengah mempercepat penyelenggaraan rapat darurat bersama 55 asosiasi anggotanya untuk membahas langkah-langkah menghadapi rencana FIFA menjual saham minoritas senilai US$20 miliar kepada investor swasta.
Berdasarkan informasi yang dikutip ESPN dari sejumlah sumber, salah satu opsi yang akan dibahas adalah potensi boikot Piala Dunia jika FIFA tetap melanjutkan proyek tersebut. Langkah ini dinilai sebagai bentuk penolakan terhadap perubahan besar dalam tata kelola komersial sepak bola dunia.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya mengumumkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas baru yang akan mengelola berbagai aset komersial FIFA, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia pria dan Piala Dunia Wanita di masa mendatang.
Melalui FFE, FIFA berencana menghimpun dana hingga US$4,2 miliar pada tahap awal dengan menjual saham minoritas kepada investor jangka panjang. Nilai keseluruhan entitas tersebut diperkirakan mencapai US$20 miliar.
Baca Juga: Xabi Alonso Akui Chelsea Masih Punya Banyak PR Meski Menang 6-4 atas Western Sydney Wanderers
FIFA menyatakan bahwa dana segar tersebut akan digunakan untuk memperluas program pengembangan sepak bola global melalui inisiatif FIFA Fast-Forward.
Dalam keterangannya, Infantino menyebut proyek tersebut bertujuan untuk mempercepat pemerataan perkembangan sepak bola di seluruh dunia.
"Ini adalah tentang demokratisasi sepak bola di seluruh dunia," ujar Infantino.
Rencana tersebut langsung mendapat respons keras dari UEFA.
Baca Juga: KAI Daop 6 Catat 126 Ribu Wisatawan Asing Naik Kereta Api ke Jogja dan Solo pada Semester I 2026
Dalam pernyataan resminya, badan sepak bola Eropa itu menegaskan bahwa sepak bola bukanlah aset komersial yang bisa diperjualbelikan oleh satu organisasi.
"Sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual," tegas UEFA.
UEFA juga mempertanyakan minimnya transparansi mengenai investor yang akan terlibat serta pihak-pihak yang nantinya memperoleh keuntungan finansial dari skema tersebut.
Menurut UEFA, tata kelola olahraga tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas bisnis semata.
Baca Juga: Zinedine Zidane Resmi Latih Timnas Prancis, Gantikan Didier Deschamps dengan Kontrak Empat Tahun
"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang dapat diperdagangkan, terutama tanpa transparansi mengenai siapa yang akan mendapatkan manfaat finansial."
Sejumlah sumber menyebut UEFA sedang mengupayakan rapat virtual yang melibatkan seluruh 55 federasi anggota sebelum akhir pekan ini.
Pertemuan tersebut bertujuan menyatukan sikap asosiasi nasional terhadap proposal FIFA sekaligus menentukan langkah lanjutan.
Salah satu opsi yang disebut akan dibahas adalah ancaman boikot Piala Dunia, strategi yang pernah digunakan UEFA pada 2021 ketika FIFA menggagas penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun sekali.
Baca Juga: Roberto Mancini Resmi Kembali Jadi Pelatih Timnas Italia, FIGC Bidik Kebangkitan Azzurri
Saat itu, ancaman penolakan dari UEFA menjadi salah satu faktor yang membuat FIFA akhirnya membatalkan rencana tersebut.
FIFA diketahui menggandeng perusahaan jasa keuangan J.P. Morgan untuk mengembangkan skema investasi tersebut.
Sementara itu, salah satu investor yang disebut akan berpartisipasi adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner. Nama tersebut menarik perhatian karena Joshua merupakan saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hubungan yang semakin erat antara Infantino dan Trump, terutama selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, turut memunculkan kekhawatiran di kalangan sejumlah federasi, termasuk UEFA.
Baca Juga: Roberto Mancini Resmi Kembali Jadi Pelatih Timnas Italia, FIGC Bidik Kebangkitan Azzurri
Sebagai bagian dari proposal tersebut, FIFA menjanjikan peningkatan signifikan dana pengembangan bagi 211 federasi anggotanya.
Jika sebelumnya setiap anggota menerima dana sekitar US$8 juta dalam satu siklus komersial Piala Dunia, melalui program baru itu jumlahnya disebut dapat meningkat menjadi US$20 juta, kemudian naik menjadi US$22 juta dan US$24 juta pada siklus berikutnya.
FIFA menegaskan bahwa setiap federasi nasional memiliki kebebasan untuk memutuskan apakah akan ikut serta dalam skema investasi tersebut.
Selain itu, badan sepak bola dunia itu memastikan tetap memegang kendali penuh atas seluruh aspek olahraga.
Baca Juga: Joan Laporta Pulih dari Gangguan Jantung, Presiden Barcelona Tunda Keberangkatan ke Inggris
"FIFA akan mempertahankan kendali penuh atas FIFA Forward Enterprise, termasuk tata kelola sepak bola, kompetisi, kalender pertandingan, serta seluruh keputusan regulasi dan olahraga," demikian pernyataan FIFA.
Hingga kini belum ada jadwal resmi mengenai pembahasan atau pemungutan suara atas proposal tersebut di tingkat FIFA.
Namun, isu ini diperkirakan akan menjadi salah satu topik paling penting menjelang Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung secara daring pada 23 November, di mana salah satu agendanya adalah pengesahan tuan rumah Piala Dunia Wanita 2031 dan 2035.
Perdebatan mengenai masuknya investor swasta ke dalam struktur komersial FIFA diprediksi akan menjadi penentu arah tata kelola sepak bola dunia dalam beberapa dekade mendatang. Di satu sisi, FIFA menilai langkah tersebut dapat memperbesar investasi untuk pengembangan sepak bola global.
Di sisi lain, UEFA khawatir komersialisasi yang berlebihan dapat mengurangi independensi dan nilai-nilai dasar olahraga paling populer di dunia itu.
Editor : Satria Putra Sejati