RADAR JOGJA - Michael Olise mengalami malam yang penuh emosi usai membela Timnas Prancis. Meski kembali mencatatkan sejarah dengan memecahkan rekor assist terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia, pemain berusia 24 tahun itu justru menangis di ruang ganti karena kecewa dengan penampilannya sendiri.
Menurut laporan media Prancis, L'Equipe, Olise merasa bersalah setelah gagal memanfaatkan dua peluang emas yang seharusnya bisa berbuah gol.
"Olise terlihat menangis di ruang ganti, menyalahkan dirinya sendiri karena gagal mencetak dua gol," tulis L'Equipe.
Kekecewaan tersebut menunjukkan tingginya standar yang dipasang Olise terhadap dirinya sendiri. Meski tampil sebagai kreator utama permainan Prancis, ia tetap menyesali kesempatan yang terbuang dan merasa bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi tim.
Melihat kondisi anak asuhnya, pelatih Prancis Didier Deschamps langsung memberikan dukungan. Ia menghampiri Olise di ruang ganti untuk menenangkan sang pemain dan mengingatkannya bahwa penampilannya tetap memberikan dampak besar bagi tim.
"Didier Deschamps berbicara dengan sang pemain dan menghiburnya karena Olise sangat kecewa dengan peluang yang gagal dicetak lagi," lanjut laporan tersebut.
Ironisnya, rasa kecewa itu datang pada hari yang sama ketika Olise mengukir sejarah di Piala Dunia 2026.
Gelandang serang Bayern Munich tersebut resmi menjadi pemain dengan assist terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia setelah membukukan tujuh assist, melampaui rekor enam assist milik legenda Brasil, Pele, yang bertahan sejak turnamen 1970.
Meski gagal mencatatkan namanya di papan skor, performa Olise sepanjang turnamen tetap mendapat apresiasi luas.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Hadirkan Wajah Pendidikan Lebih Humanis, Cetak Masa Depan Anak dari Kelompok Marginal
Rekor tujuh assist menjadi bukti peran vitalnya sebagai motor serangan Prancis sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu playmaker terbaik di dunia saat ini.
Kekecewaan yang dirasakan Olise justru mencerminkan mentalitas seorang pemain elite yang selalu ingin memberikan kontribusi maksimal.
Di balik air mata tersebut, ia tetap meninggalkan warisan bersejarah dengan memecahkan salah satu rekor paling ikonik di Piala Dunia.
Editor : Satria Putra Sejati