JOGJA - Masa transisi kompetisi dari BRI Super League 2026/2027 menuju BRI Super League 2026/2027 menjadi waktu bagi setiap klub melakukan evaluasi dan menyusun kekuatan menyambut musim baru. Bagi pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel, membangun tim tidak hanya soal menentukan strategi di lapangan, tetapi juga memahami kemampuan finansial klub.
Pelatih asal Belanda itu mengungkapkan, setiap keputusan dalam membentuk skuad harus disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Karena itu, ia mengaku tidak bisa begitu saja meminta tambahan pemain sesuai keinginannya.
"Kalau tim butuh gol, maka butuh pemain, dan anda harus punya anggaran. Jika berharap pemain bisa mencetak banyak gol, tentu meminta gaji lebih besar daripada anggaran yang kami miliki," ujar Van Gastel, Senin (13/7).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat PSIM Jogja harus realistis dalam menentukan prioritas di bursa transfer. Alih-alih mengejar pemain depan berlabel bintang, ia justru menilai kebutuhan harus stabil di setiap lini.
Semusim di liga Indonesia, Van Gastel memahami tidak semua klub memiliki kekuatan finansial yang sama. Karena itu, ia menilai target maupun langkah membangun tim juga harus disesuaikan dengan kapasitas masing-masing klub.
"Saya ingin ini, saya ingin itu. Ya, saya juga menginginkannya. Tapi kalau tidak ada uang, ya itu tidak mungkin. Kami bukan Persib, kami bukan Persija," tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan pendekatan realistis yang diusung mantan asisten pelatih Giovanni van Bronckhorst itu. Baginya, tugas pelatih bukan hanya merancang taktik, tetapi juga memaksimalkan sumber daya yang tersedia.
Di tengah keterbatasan yang terjadi, Van Gastel tetap mengapresiasi upaya manajemen yang berusaha memenuhi kebutuhan tim. Ia melihat komunikasi antara jajaran pelatih dan manajemen juga berjalan dengan baik dalam mencari solusi untuk memperkuat skuad.
"Saya berterima kasih manajemen bekerja keras dan mencoba menyelesaikannya, mereka mencari pemain yang saya mau," tuturnya. (iza)
Editor : Heru Pratomo