RADAR JOGJA - Pertemuan Argentina melawan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola. Laga ini membawa sejarah panjang yang dipenuhi drama, kontroversi, hingga momen-momen ikonik yang membentuk salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah olahraga dunia.
Selama lebih dari enam dekade, setiap bentrokan kedua negara hampir selalu menyajikan cerita yang melampaui hasil akhir di lapangan. Politik, harga diri bangsa, dan legenda sepak bola seolah menyatu setiap kali Argentina dan Inggris saling berhadapan.
Secara statistik, Inggris memang lebih unggul dalam rekor pertemuan. Dari 14 pertandingan internasional, The Three Lions mengoleksi enam kemenangan, sementara Argentina baru dua kali menang dan lima laga lainnya berakhir imbang.
Baca Juga: Lirik Lagu “Gapapa” Diubah Jadi Vulgar, Anisa Bahar Siapkan Jalur Hukum, Berujung Lapor Polisi
Namun, ketika berbicara tentang Piala Dunia, setiap pertandingan memiliki cerita yang sulit dilupakan.
Rivalitas ini mulai memanas pada perempat final Piala Dunia 1966. Inggris menang 1-0 dalam laga yang diwarnai kartu merah kontroversial untuk kapten Argentina, Antonio Rattin. Insiden tersebut memicu ketegangan yang bertahan hingga bertahun-tahun.
Dua dekade kemudian, dunia menyaksikan salah satu pertandingan paling legendaris dalam sejarah sepak bola. Pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko, Diego Maradona mencetak dua gol yang dikenang hingga sekarang.
Gol pertama lahir melalui aksi kontroversial yang kemudian dikenal sebagai "Hand of God" atau Tangan Tuhan, sedangkan gol kedua dianggap banyak pihak sebagai "Goal of the Century" setelah Maradona melewati lima pemain Inggris sebelum menjebol gawang Peter Shilton. Argentina menang 2-1 dan akhirnya keluar sebagai juara dunia.
Pertandingan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar. Empat tahun sebelumnya, Argentina dan Inggris terlibat konflik bersenjata dalam Perang Falklands (Kepulauan Malvinas). Karena itu, kemenangan Argentina atas Inggris dianggap sebagai simbol kebangkitan nasional bagi banyak warga Argentina.
Drama kembali berlanjut di Piala Dunia 1998. Kali ini giliran David Beckham menjadi sorotan setelah menerima kartu merah akibat menendang Diego Simeone. Inggris akhirnya tersingkir melalui adu penalti, sementara Beckham menjadi sasaran kritik keras di negaranya.
Baca Juga: Legenda Manchester United Dorong Arsenal Rekrut Marcus Rashford, Setan Merah Bidik Carlos Baleba
Empat tahun berselang, Beckham membayar lunas kegagalannya. Kapten Inggris itu mencetak gol penalti yang membawa timnya menang 1-0 atas Argentina pada fase grup Piala Dunia 2002. Kemenangan tersebut menjadi salah satu momen paling emosional dalam karier internasional Beckham.
Menariknya, setelah 2005 kedua negara tidak lagi bertemu dalam pertandingan resmi maupun persahabatan. Baru pada Piala Dunia 2026, Inggris dan Argentina kembali dipertemukan di panggung terbesar sepak bola dunia.
Semifinal kali ini menghadirkan cerita baru. Di kubu Argentina, Lionel Messi berpeluang menambah satu bab lagi dalam karier internasionalnya yang gemilang. Meski telah menjalani lebih dari dua dekade bersama tim nasional, ini menjadi pertemuan resmi pertama Messi melawan Inggris di level senior.
Sejak menjadi pemain inti Argentina pada Copa America 2007, Messi telah memenangkan Copa America, Finalissima, dan Piala Dunia, menjadikannya salah satu pemain tersukses dalam sejarah La Albiceleste.
Baca Juga: Zlatan Ibrahimovic Kritik Keputusan Pelatih Belgia: Kenapa Lammens? Kan Ada Penders
Sementara itu, Inggris datang dengan generasi emas baru yang dipimpin Jude Bellingham. Gelandang muda tersebut tampil luar biasa sepanjang Piala Dunia 2026 dan menjadi simbol harapan Three Lions untuk mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 1966.
Lebih dari sekadar perebutan tiket menuju final, duel Argentina kontra Inggris kembali mempertemukan dua negara yang memiliki sejarah panjang, dua generasi berbeda, dan dua ambisi besar.
Di satu sisi ada Messi yang berusaha menambah warisan terakhirnya bersama La Albiceleste. Di sisi lain, Inggris ingin membuka era baru dengan generasi mudanya.
Editor : Satria Putra Sejati