ZURICH – Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadapi gelombang kritik dan desakan untuk mengundurkan diri setelah keputusan kontroversial yang menangguhkan hukuman larangan bermain terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Kebijakan tersebut memicu perdebatan luas dan disebut-sebut mengancam integritas penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Kontroversi bermula setelah Balogun menerima kartu merah saat membantu Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina. Berdasarkan regulasi yang berlaku, penyerang tersebut seharusnya menjalani skors otomatis satu pertandingan sehingga absen pada laga babak 16 besar melawan Belgia.
Namun, FIFA memutuskan menangguhkan pelaksanaan hukuman tersebut sehingga Balogun tetap dapat memperkuat Amerika Serikat pada pertandingan tersebut.
Keputusan itu menjadi sorotan karena muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, dikabarkan melakukan percakapan melalui telepon dengan Gianni Infantino.
Langkah FIFA tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak. UEFA, selaku konfederasi sepak bola Eropa, disebut menilai keputusan tersebut berpotensi merusak integritas Piala Dunia karena dianggap mencederai konsistensi penerapan aturan disiplin.
Sejumlah pendukung sepak bola juga menyuarakan kekecewaan mereka. Salah satunya adalah Ray Harada, pendukung tim nasional Inggris berusia 67 tahun, yang menilai Infantino seharusnya mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.
"Jika Infantino masih memiliki rasa malu, seharusnya ia mengundurkan diri. Jika aturan FIFA bisa diubah hanya karena satu panggilan telepon dari Donald Trump, lalu apa gunanya memiliki aturan?" ujar Harada.
Di sisi lain, FIFA menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan ketentuan dalam Kode Disiplin FIFA, tepatnya Pasal 27.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menjelaskan bahwa pelaksanaan hukuman larangan bermain terhadap Balogun ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun.
Apabila Balogun kembali melakukan pelanggaran dengan tingkat keseriusan yang serupa selama periode tersebut, maka penangguhan akan dicabut dan hukuman yang sebelumnya ditunda akan diberlakukan, tanpa mengurangi kemungkinan adanya sanksi tambahan atas pelanggaran baru yang dilakukan.
Sementara itu, Donald Trump turut menyambut keputusan FIFA melalui unggahan di platform Truth Social. Dalam pesannya, ia menyampaikan apresiasi kepada FIFA karena dinilai telah "melakukan hal yang benar" dengan membatalkan apa yang disebutnya sebagai sebuah ketidakadilan.
Kontroversi tersebut semakin menambah sorotan terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026, terutama terkait independensi proses disiplin FIFA dan konsistensi penerapan regulasi terhadap seluruh peserta turnamen.
Editor : Bahana.