JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel, membuka peluang perubahan gaya bermain timnya pada musim depan. Meneer Belanda tersebut menegaskan, kemenangan tetap menjadi prioritas utama.
Menurut Van Gastel, sepak bola pada akhirnya bukan hanya soal memainkan permainan indah, melainkan bagaimana tim mampu meraih hasil maksimal dalam pertandingan.
"Tujuan utama saya tetap menang. Saya ingin menang dan tidak masalah bagaimana caranya," ujar Van Gastel, Rabu (20/5).
Musim ini di kompetisi BRI Super League 2025/2026, filosofi dan gaya permainan Van Gastel cukup dominan dengan penguasaan bola tinggi. Hal tersebut terlihat dari laga-laga PSIM Jogja musim ini, yang hampir selalu dominan dan menang penguasaan bola.
Eks asisten pelatih Ronald Koeman itu menjelaskan, setiap pertandingan memiliki situasi berbeda yang terkadang memaksa tim bermain di luar rencana awal. Karena itu, menurutnya, sebuah tim harus mampu beradaptasi dengan kondisi di lapangan.
"Misal kami bermain tidak terlalu bagus, tapi masih bisa bertarung dan tetap solid dalam bertahan. Itu juga cara untuk menang," katanya.
Mantan gelandang Feyenoord itu mengatakan, pendekatan taktik yang akan digunakan PSIM musim depan sangat bergantung pada profil pemain yang berhasil direkrut manajemen nantinya. Ia mengaku sudah menyampaikan sejumlah kebutuhan posisi kepada klub.
Selanjutnya, proses perekrutan akan dibahas bersama manajemen dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran tim. "Profil pemain yang direkrut nanti akan sangat menentukan bagaimana saya bermain dan menerapkan strategi,"ucapnya.
Van gastel mengakui, saat pertama datang ke PSIM musim ini, komposisi skuad sudah terbentuk lebih dulu. Situasi tersebut membuat dirinya harus menyesuaikan gaya bermain dengan karakter pemain yang tersedia.
Baca Juga: Pidato Prabowo, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi di Kisaran 5,8 - 6,5 Persen RAPBN 2027
"Saya mencari cara bermain yang cocok untuk mereka, supaya kekuatan pemain bisa terlihat dan kelemahannya bisa tertutupi," katanya.
Van Gastel juga memastikan dirinya akan tetap bersama PSIM pada musim depan setelah memperpanjang kontrak selama satu tahun. Selain membahas rencana tim, pelatih berusia 54 tahun itu turut menyoroti kualitas pemain lokal Indonesia.
Menurutnya, kemampuan membaca permainan menjadi salah satu perbedaan paling mencolok antara pemain Indonesia dan pemain Eropa. "Saya pikir perbedaannya ada pada aspek taktikal, terutama membaca permainan," ucapnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo