SLEMAN - Kembalinya PSS Sleman ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia tidak hanya disambut sukacita oleh publik Bumi Sembada. Sebab ada satu titik yang sudah bertahun-tahun dinantikan oleh para pecinta sepak bola di tanah air, yakni tersajinya kembali Derby DIY melawan saudara tunya, PSIM Jogja, di Super League musim 2026/2027 nanti.
Aroma rivalitas yang bakal kembali membara itu juga turut memantik perhatian Pelatih Timnas U-19 Indonesia, Nova Arianto. Sebagai figur yang pernah berseragam Laskar Sembada pada musim 2001/2002 serta 2015, Nova menyatakan jika tensi tinggi Derby DIY selalu memiliki daya tarik luar biasa bagi masyarakat sepak bola Jogja dan Sleman.
Baca Juga: Kebakaran Rumah Terjadi di Sewon, Petugas BPBD Bantul Sebut Penghuni Cium Kabel Terbakar sejak Sore
Meski begitu, Nova tetap memberikan catatan terkait kondusivitas laga sarat gengsi tersebut. Sehingga, ia mewanti-wanti agar panasnya tensi pertandingan hanya tersaji selama 90 menit di atas lapangan hijau, bukan berujung pada gesekan di luar stadion.
"Sepak bola itu adalah mempersatukan semuanya. Saya berharap kejadian-kejadian di luar sepak bola (kerusuhan) tidak terjadi lagi dan pertandingan bisa berjalan dengan baik," tegasnya saat ditemui di Lapangan Yogyakarta Independent School (YIS), Sleman, Rabu (20/5) sore.
Bukan tanpa sebab Nova mengatakan hal tersebut. Sebab baginya, bertemunya kembali PSS Sleman dan PSIM Jogja di kasta tertinggi harus dijadikan momentum untuk menunjukkan kedewasaan para suporter di DIY. Alih-alih menjadi pemicu perpecahan, atmosfer derby musim depan diharapkan menjadi panggung industri sepak bola yang sehat dan kompetitif.
Selain memprediksi panasnya atmosfer Derby DIY, mantan bek tangguh Timnas Indonesia ini juga menyoroti regulasi anyar Super League untuk musim depan. Seperti diketahui, operator kompetisi tetap mempertahankan kuota 11 pemain asing, namun resmi menghapus kewajiban memainkan pemain kelompok umur U-23.
Sebagai pelatih yang menakhodai Garuda Muda, Nova memandang kebijakan ini dari dua sisi. Ia memahami bahwa Super League merupakan industri profesional di mana regulasi akan selalu berkembang mengikuti pasar. Namun di sisi lain, regulasi ini jelas menjadi tantangan super berat bagi talenta lokal.
"Kesempatan (bagi pemain muda) pasti tetap ada. Tapi saya berharap juga ada kompetisi khusus bagi usia muda yang berjalan beriringan, agar mereka bisa terus bermain dan menjaga jam terbang secara berkelanjutan," tandasnya. (ayu).
Editor : Heru Pratomo