SLEMAN - Langkah PSS Sleman terhenti di final Pegadaian Championship (Liga 2) musim 2025/2026. Laskar Sembada kalah dramatis dari Garudayaksa FC melalui adu penalti dengan skor 5-6 setelah bermain imbang 2-2.
Meski gagal meraih gelar juara, keberhasilan Super Elja kembali promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan tetap menghadirkan kebanggaan besar bagi masyarakat Sleman. Kebahagiaan itu bahkan terasa melampaui sekadar hasil akhir pertandingan.
Hal tersebut tegas diungkapkan Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Sleman, Abu Bakar usai pertandingan di Stadion Maguwoharjo Sabtu (9/5/2026).
Pria yang akrab disapa Abu itu mengaku sudah menjadi Slemania sejak tahun 2005. Tepat saat dirinya mulai mengabdi sebagai pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman.
Baca Juga: Pesan dari Sang Legenda M. Eksan: PSS Sleman Harus Bisa Bersaing, Jangan Sampai di Bawah Terus
Sejak saat itu, Abu mengikuti perjalanan PSS Sleman dari musim ke musim. Mantan Panewu Prambanan, Ngaglik, dan Depok tersebut ikut merasakan perjuangan, jatuh bangun, hingga berbagai drama yang dialami klub kebanggaan warga Sleman itu di kompetisi sepak bola Indonesia.
“Dari awal saya bertugas di Sleman, saya ikut mencintai PSS. Bukan cuma melihat sebagai klub sepak bola, tapi sudah menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan warga Sleman,” ujar Abu.
Rasa kecewa mendalam sempat dirasakannya ketika PSS Sleman terdegradasi pada musim 2024/2025. Menurutnya, kesedihan itu dirasakan hampir seluruh masyarakat Sleman.
“Waktu degradasi itu rasanya sedih sekali. Sama seperti Slemania lainnya, saya kecewa. Tapi di situlah loyalitas diuji. Mendukung klub bukan hanya saat menang,” katanya.
Kebahagiaan akhirnya kembali hadir ketika PSS Sleman memastikan promosi ke BRI Super League (Liga 1) musim depan. Usai mengalahkan PSIS Semarang dengan skor 2-1 di Stadion Maguwoharjo, Minggu (3/5) lalu.
Abu mengaku laga tersebut menghadirkan perasaan campur aduk dalam dirinya. Pasalnya, sejak kecil dirinya juga mengidolakan PSIS Semarang.
“Jujur, waktu PSS menang saya bahagia sekali. Tapi di sisi lain juga sedih karena dari kecil saya suka PSIS. Tapi sekarang PSS 100 persen,” ujarnya sambil tertawa.
Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap klub kebanggaan warga Sleman itu, Abu turut berkontribusi dengan membeli jersey khusus final Pegadaian Championship bertuliskan “We’re Back”.
Jersey edisi spesial yang diproduksi suporter Brigada Curva Sud (BCS) tersebut bahkan laris manis laku terjual hingga 3.000 potong.
Menariknya, jersey khusus itu tidak hanya dibeli suporter biasa. Ternyata banyak ASN Pemkab Sleman, anggota DPRD Kabupaten Sleman, hingga perangkat kalurahan ikut memborongnya sebagai simbol kebanggaan atas prestasi PSS Sleman.
Baca Juga: Saat Sang Pemain Terbaik 2018 Kembali! Ichsan Pratama Jadi Jimat Promosi PSS Sleman Lagi
“Ini bukan sekadar jersey. Ini simbol rasa bangga dan cinta kami kepada PSS. Kami ingin menunjukkan kalau pemerintah daerah, DPRD, sampai teman-teman kalurahan ikut mendukung perjuangan klub ini,” katanya usai berfoto bersama anggota DPRD Sleman mengenakan jersey khusus tersebut.
Menurut Abu, keberhasilan PSS Sleman kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia merupakan hadiah besar bagi masyarakat Sleman.
“Ini adalah hadiah luar biasa bagi warga Sleman. Setelah melewati masa sulit, akhirnya PSS kembali pulang ke Liga 1,” tegasnya.
Musim depan, atmosfer sepak bola DIY dipastikan semakin panas sekaligus menarik karena PSS Sleman akan kembali bertemu PSIM Yogyakarta di kompetisi yang sama.
Meski rivalitas diprediksi meningkat, Abu berharap para suporter tetap menjaga kedewasaan dan persaudaraan.
“Derby Jogja harus jadi pesta sepak bola, bukan ajang permusuhan. Kita harus saling menghormati dan mendukung dengan dewasa. Mataram bersaudara selamanya,” ucap pria yang mengidolakan pemain PSS Rico Simanjuntak itu.
Abu juga mengajak seluruh suporter menjaga nama baik Yogyakarta melalui sepak bola yang damai dan sportif.
Baca Juga: Wawancara Eksklusif dengan Coach Ansyari ‘Uwak’ Lubis: Terima Kasih Coach Seto Yang Membawa Saya
“Jogja itu istimewa. Persaudaraan jangan sampai rusak hanya karena pertandingan. Mari kita jaga persaudaraan Jogja Istimewa lewat sepak bola,” pungkas Abu. (naf)
Editor : Bahana.