JOGJA - Krisis yang melanda PSBS Biak di akhir kompetisi BRI Super League musim 2025/2026 ini, kian mengkhawatirkan. Kapten tim PSBS Sandro Embaló secara terbuka mengungkap kondisi internal tim yang disebutnya sudah berada dalam situasi kritis. Terutama terkait masalah finansial yang berdampak langsung keseharian para pemain.
Hingga pekan ke-31 BRI Super League 2025/2026, PSBS terpuruk di dasar klasemen dengan koleksi 18 poin dari total 18 tim peserta. Dengan tiga pertandingan tersisa, mereka telah dipastikan terdegradasi ke Liga 2. Namun, persoalan yang dihadapi tim tidak berhenti pada hasil di lapangan.
Dalam beberapa laga terakhir, sejumlah pemain, terutama pemain asing, sudah tidak lagi masuk dalam daftar susunan pemain (DSP). Bahkan beberapa di antaranya diketahui telah meninggalkan tim dan pulang ke negaranya masing-masing.
Baca Juga: Jembatan Kewek Jogja Akan Diganti Baru, Nilai Kontrak Rp 19 Miliar, Target Kelar 25 Desember 2026
Dari data yang dihimpun Radar Jogja, Ruyery Blanco dan Kevin Lopez dilaporkan sudah pulang ke Kolombia, sementara Eduardo Barbosa juga baru kembali ke Portugal. Sandro sendiri juga sempat tidak tercantum dalam DSP, menambah indikasi kuat adanya ketidakstabilan di dalam skuad.
Sandro mengungkapkan, para pemain sejatinya masih berusaha bertahan dan menjaga komitmen, meski kondisi yang dihadapi semakin sulit.
"Kami telah berusaha untuk mendapat gaji kami dan kondisi yang layak untuk terus berkompetisi. Para pemain masih di sini, tapi kami butuh dukungan karena situasinya sudah kritis," ungkapnya, Selasa (5/5).
Baca Juga: Warga Ungkap Tawuran di Jalan Tunjung Umbulharjo Jogja Sudah seperti Event Tahunan
Ia kemudian membeberkan realita yang lebih dalam. Tidak hanya menyangkut aspek profesional, tetapi juga kebutuhan dasar para pemain. "Terkadang kami tidak punya anggaran untuk membayar lapangan latihan. Pemain lokal dalam keadaan kacau, mereka bahkan tidak punya makanan lagi," sebutnya.
Selain itu, masalah finansial yang terjadi di tim juga berdampak pada fasilitas yang sebelumnya digunakan pemain asing. "Kami sudah diberi tahu berkali-kali bahwa mobil harus dikembalikan karena tidak dibayar. Ini situasi yang sangat buruk," ujarnya.
Menurut pemain asal Portugal ini, upaya komunikasi dengan manajemen sudah dilakukan berulang kali, namun belum juga membuahkan kejelasan.
"Kami sudah berkali-kali mencoba berkomunikasi ke manajemen. Kadang mereka respons, kadang tidak. Kami hanya ingin penjelasan dan mendapat hak kami," bebernya.
Secara pribadi ia menegaskan para pemain tidak berniat memperkeruh situasi, melainkan hanya menuntut hak dasar sebagai pekerja profesional. "Kami hanya ingin mendapat hak kami. Sebagai orang yang bekerja setiap hari, seharusnya kami mendapatkan bayaran," ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap melihat kualitas kompetisi sepak bola Indonesia secara umum cukup baik. Hanya saja terganggu oleh persoalan finansial yang masih terjadi di sejumlah klub.
"Liga ini sangat bagus dan menghibur. Tapi situasi finansial seperti ini membuat liga tidak bisa berkembang seperti seharusnya," sesalnya.
Sementera itu, dari informasi yang dihimpun Radar Jogja, setidaknya ada lima pemain yang sudah resmi meninggalkan tim dan kembali ke negara atau rumah masing-masing. Mereka adalah empat pemain asing dan satu pemain lokal.
Baca Juga: Ikan Mati di Sungai Belik, Pleret Diduga Akibat Kekurangan Oksigen dari Limbah Detergen
"Iya, dengan kondisi saat ini mereka memilih pulang. Ada yang memang cedera dan tidak bisa menyelesaikan sisa pertandingan, ada juga yang karena gajinya belum dibayar," ungkap orang dalam PSBS Biak yang tidak mau disebutkan namanya, Selasa (5/5).
Tak hanya itu, bahkan menurut orang itu, Pelatih Marian Mihail juga dikonfirmasi telah berhenti dari kursi kepelatihan tim PSBS. Pelatih asal Rumania itu telah pergi sebelum tim berjuluk Badai Pasifik ini melawan Persebaya Surabaya, Sabtu (2/5) lalu. ""Kalau Coach Mihail itu diberhentikan," tegasnya.
Kondisi ini tentu menjadi pukulan telak bagi skuad yang tengah berupaya menjaga martabat di penghujung musim. Meski secara matematis PSBS sudah dipastikan terdegradasi ke kasta kedua musim depan, kehilangan hampir seluruh legiun asing di sisa kompetisi bukanlah perkara mudah bagi tim.
Baca Juga: Sleman Masih Kekurangan 13.320 Ekor Sapi dan Domba untuk Kurban, Hanya Kambing yang Surplus
Oleh karena itu, kini skuad PSBS dipaksa memutar otak dengan memaksimalkan materi pemain yang tersisa. Sebab, bagi orang yang tidak mau disebutkan namanya itu, meski badai finansial menerjang, sisa kompetisi adalah panggung pembuktian bagi para pemain yang masih memilih setia dan bertahan.
"Kompetisi harus selesai. Kami memaksimalkan materi yang ada saja. Targetnya sekarang berubah, selain menyelesaikan komitmen kompetisi, ini jadi ruang buat anak-anak menunjukkan kemampuannya untuk musim depan," tuturnya. (iza/ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita