JOGJA - PSIM Jogja tampil berbeda saat melawan Persija Jakarta di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Rabu (22/4). Tak ada penguasaan bola khas Van Gastel.
Sebagai gantinya, PSIM tampil bertahan dengan ”parkir bus”.Tapi berhasil memutus tiga kekalahan beruntun. Dengan hasil imbang 1-1.
Dari match stats resmi dari BRI Super League 2025/2026, dalam laga pekan ke-29 itu PSIM hanya menguasai bola sebanyak 31 persen.
Baca Juga: Sosok Ilham di Mata Guru BK SMAN 1 Bambanglipuro: Suka Bersosialisasi dan Tak Ada Catatan Kriminal
Padahal dalam laga-laga sebelumnya penguasaan bola Laskar Mataram rerata di atas 60 persen.
Tapi pendekatan berbeda dari PSIM ini mampu memutus tren negatif tiga kekalahan secara beruntun. Meski harus bermain di bawah tekanan sepanjang pertandingan.
PSIM sempat mengejutkan dengan mencetak gol cepat saat laga baru berjalan lima menit. Ezequiel Vidal mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan umpan Savio Sheva.
Setelah itu juara Liga 2 musim lalu itu dalam tekanan Macan Kemayoran. Bahkan tekanan bertubi-tubi membuat pertahanan PSIM membuat dua kesalahan yang berbuah penalti.
Allano Lima yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan baik dan mengubah skor menjadi 1-1.
Persija kembali mendapat peluang emas untuk unggul pada menit ke-40 melalui penalti. Namun, kesempatan tersebut gagal dimanfaatkan setelah tendangan Maxwell berhasil ditepis Cahya Supriadi.
Pelatih PSIM Jean Paul van Gastel, menilai hasil imbang ini sebagai capaian maksimal bagi timnya, mengingat kualitas lawan yang dihadapi. Ia secara terbuka mengakui Persija tampil dominan, terutama dalam menekan lini pertahanan timnya.
"Saya senang dengan satu poin melawan Persija, yang menurut saya mereka bermain untuk perebutan gelar juara karena tim mereka sangat bagus," ujar Van Gastel, Rabu (22/4).
Pelatih asal Belanda itu juga menyoroti perubahan pendekatan timnya di babak kedua yang lebih fokus pada pertahanan agresif demi mengamankan hasil.
Baca Juga: UU PPRT Baru Saja Disahkan DPR, Bupati Gunungkidul: Ubah Stigma Perempuan Gunungkidul
Di babak kedua tim yang didirikan pada 5 September 1929 itu bertahan jauh lebih baik. “Lebih agresif, lebih memiliki keinginan untuk menang. Mereka tidak menciptakan banyak peluang, jadi kami senang dengan satu poin," lanjutnya.
Senada dengan sang pelatih, kapten PSIM Franco Ramos Mingo menyebut hasil ini sebagai buah dari kerja keras kolektif dalam menghadapi tekanan Persija.
"Kami melakukan upaya yang luar biasa sebagai sebuah tim. Kami bertahan dengan baik dan mendapat satu poin yang penting untuk memutus tren negatif," kata pemain asal Argentina itu.
Editor : Heru Pratomo