JOGJA - Keputusan memindahkan laga PSIM Jogja kontra Persija Jakarta ke Bali menuai sorotan luas. Pertandingan pekan ke-29 BRI Super League 2025/2026 yang semula dijadwalkan di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Rabu (22/4) dipastikan berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, tanpa kehadiran penonton.
Perubahan venue ini bukan sekadar persoalan lokasi, tetapi juga menghilangkan konteks kandang yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama PSIM. Atmosfer suporter, tekanan psikologis kepada lawan pun mendadak hilang karena perubahan lokasi pertandingan ini.
Dalam catatan pertemuan sebelumnya, Persija memang unggul setelah menang 2-0 atas PSIM di putaran pertama BRI Super League di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
Sementara di konferensi pers sebelum pertandingan, Pelatih PSIM Jean Paul van Gastel secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai laga melawan tim besar seperti Persija seharusnya menjadi momentum penting yang dinikmati bersama suporter di Jogja.
"Sangat mengecewakan bahwa pertandingan tidak diadakan di Jogja. Klub dan para penggemar kami sudah menunggu lama untuk bermain melawan tim-tim besar di Indonesia," ujar van Gastel, Selasa (21/4).
Lebih dari sekadar hasil pertandingan, Van Gastel menyoroti hilangnya pengalaman emosional yang seharusnya hadir dan bisa dirasakan dalam laga kandang.
"Ketika saatnya tiba dan harusnya kita memiliki pertandingan kandang melawan Persija, tapi kami tidak bisa bermain di kandang sendiri. Itu mengecewakan bagi klub, para pemain, dan pendukung," tegasnya.
Dalam pernyataannya, ia bahkan menyinggung soal relasi antarsuporter yang sebelumnya terjalin baik saat PSIM bertandang ke Jakarta.
"Kami berharap untuk mengadakan pertandingan kandang dengan banyak penggemar dari kedua belah pihak. Penggemar kami diperlakukan dengan sangat baik saat di Jakarta," lanjutnya.
Di tengah situasi itu, PSIM juga datang dengan tekanan performa. Tiga hasil kekalahan beruntun sebelum ini menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Meski demikian, Van Gastel menegaskan masalah tim bukan pada aspek fisik.
"Saya tidak khawatir tentang kelelahan pemain saya. Mereka bugar dan bekerja sangat keras sepanjang musim," jelasnya.
Namun demikian, ia juga tak menutupi soal ketidakpuasannya terhadap tren hasil belakangan ini yang diraih timnya.
"Kami kalah dalam banyak pertandingan saat ini. Saya tidak puas dengan hasil di paruh kedua musim, karena saya pikir kami bisa melakukan jauh lebih baik," tambahnya.
Dari sisi pemain, gelandang PSIM Ze Valente menggarisbawahi padatnya jadwal sebagai tantangan utama. Waktu persiapan yang sempit membuat tim harus langsung beralih dari fase pemulihan ke pertandingan berikutnya.
"Persiapannya singkat. Pada dasarnya kami hanya punya waktu untuk pulih dan sekarang kami akan bermain lagi," kata Ze Valente.
Meski demikian, ia tetap percaya diri menghadapi kekuatan Persija yang dikenal konsisten membangun skuad kompetitif.
"Kami tahu akan menghadapi tim yang bagus dengan kekuatan mereka. Tapi kami juga punya kekuatan kami. Saya pikir kami bisa bersaing di level yang baik," ujarnya.
Gelandang asal Portugal itu juga memprediksi duel PSIM kontra Persija akan berjalan terbuka dan menarik. "Kedua tim suka mengendalikan permainan dan menguasai bola. Jadi ini akan menjadi pertandingan menarik," tambahnya.
Dari kubu lawan, Pelatih Persija Mauricio Souza mengakui, perubahan venue turut mengganggu rencana awal timnya. Persija yang semula mengira akan bermain di Jogja harus melakukan penyesuaian dengan perjalanan tambahan ke Bali.
"Kami punya persiapan yang lebih singkat dari biasanya karena jarak antarpertandingan. Kami juga tidak menyangka harus melakukan perjalanan lagi, karena kami pikir akan bermain di Jogja," ujar Souza.
Namun, ia melihat juga ada sisi positif dari pemindahan venue ini. Salah satunya kualitas lapangan di Stadion Dipta sebagai faktor yang bisa menguntungkan kedua tim.
"Bermain di Bali, di lapangan yang sangat bagus, itu mendukung permainan. Saya pikir kedua tim akan senang bermain di kondisi seperti ini," jelasnya.
Pelatih asal Brasil itu juga menilai PSIM sebagai tim yang solid secara kolektif, bukan hanya bergantung pada individu. "Lawan kami adalah tim yang teknis, dengan permainan yang terorganisasi dan penguasaan bola yang baik. Saya tidak melihat satu atau dua pemain saja, tapi mereka kuat sebagai tim," tambahnya.
Sementara itu, pemain Persija Eksel Runtukahu menegaskan, target timnya tetap sama, membawa pulang tiga poin, terlepas dari situasi yang tidak ideal.
"Kami sebagai pemain pasti akan memberikan yang terbaik walaupun tidak bermain di Jogja. Kami satu tekad untuk meraih tiga poin di sini," tegas Eksel.
Secara pribadi, ia juga berharap laga akan berjalan dengan lancar meskipun tanpa kehadiran suporter. "Semoga pertandingan berjalan lancar dan kami bisa pulang ke Jakarta dengan tiga poin," terangnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita