JOGJA - Pertanyaan terkait performa buruk PSIM Jogja di putaran kedua kompetisi Super League mulai terjawab. Sang pelatih Jean Paul van Gastel yang membocorkannya.
Van Gastel sendiri mengaku tetap akan memberikan teguran keras bagi mentalitas para pemainnya. Menurutnya, kegagalan mengamankan poin penuh di putaran kedua ini disebabkan oleh hilangnya rasa lapar akan kemenangan dan sikap yang terlalu meremehkan keadaan.
"Terlalu santai dan tanpa beban, itu adalah salah satu karakter negatif di tim saya," tegasnya, Rabu (15/4).
Baca Juga: Keluhkan Mual Muntah Diare, 75 Siswa di SMP Negeri 3 Jetis Bantul Diduga Keracunan MBG
PSIM Jogja tercatat sebagai tim dengan jumlah seri terbanyak hingga pekan ke-27 . Sebab sejauh ini, tim berjuluk Laskar Mataram ini meraih total sembilan kemenangan, 11 imbang, serta tujuh kekalahan.
Meski begitu, sejatinya PSIM Jogja yang merupakan tim promosi sempat mengejutkan pada putaran pertama. Saat itu, anak-anak Jogja mencatatkan delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan tiga kekalahan, bahkan sempat menembus lima besar klasemen sementara.
Namun, memasuki putaran kedua, performa PSIM Jogja justru malah menurun. Dari sepuluh laga yang telah dijalani, Savio Sheva dan kawan-kawan hanya meraih satu kemenangan, lima imbang, dan empat kekalahan dan kini berada di posisi kesembilan dengan koleksi 38 poin.
Meneer Belanda itu pun mengakui adanya penurunan performa di dalam timnya. Akan tetapi, menurutnya hasil tersebut dikarenakan tim memilih untuk tidak mendatangkan banyak pemain baru guna menambal posisi yang lemah.
"Saya perhatikan adalah hampir setiap tim mendatangkan banyak pemain baru, sedangkan kami tidak," ujarnya,
Oleh karena itu, bagi van Gastel sangat ambisius jika saat ini PSIM Jogja ingin berakhir setinggi mungkin di klasemen akhir. Sebab target sejak awal musim tim yang lahir 5 September 1929 silam ini hanya ingin tetap bertahan di kompetisi Super League.
Editor : Heru Pratomo