RADAR JOGJA - Graham Arnold memahami bagaimana tantangan besar yang akan dia hadapi sebagai pelatih kepala tim nasional Irak.
Namun, empat tahun setelah aksi heroik penalti Australia dalam playoff kualifikasi melawan Peru, pelatih berusia 62 tahun ini menghadapi tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya pada hari Rabu saat ia mencoba membimbing Irak ke Piala Dunia pertama dalam 40 tahun.
"Sebelum saya menerima pekerjaan ini, saya diberi tahu bahwa ini mungkin salah satu pekerjaan tersulit di dunia," kata Arnold.
"Irak belum lolos ke Piala Dunia selama 40 tahun, ini tantangan besar dengan banyak tekanan dan mereka adalah negara berpenduduk 46 juta jiwa yang terobsesi dengan sepak bola," imbuhnya.
Arnold akan menjadi pelatih Australia pertama yang lolos ke Piala Dunia putra dengan dua negara berbeda jika Singa Mesopotamia mengalahkan Bolivia di Monterrey, Meksiko.
Dia tidak berbicara bahasa Arab, tetapi jelas memahami betapa besarnya dampak yang bisa terjadi bagi Irak jika bisa lolos ke Piala Dunia pertama sejak 1986.
Baca Juga: Kolombia 1-3 Prancis, Desire Doue Brace, Kylian Mbappe Hampir Pecahkan Rekor Olivier Giroud
"Saya ingat betapa hebatnya ketika kami lolos pada tahun 2005 bersama Socceroos, dan dampak yang bisa ditimbulkannya bagi negara ini," kata Arnold.
"Di Irak, mereka semua memiliki darah yang sama dan mereka sangat bersemangat untuk permainan ini," jelasnya.
Tim asuhan Arnold mengalahkan Uni Emirat Arab untuk lolos ke babak playoff Piala Dunia 2026 dengan penalti pada menit ke-17 waktu tambahan babak kedua yang memicu perayaan nasional.
Baca Juga: Wawali Wawan Harmawan Ajak Anak Muda Jogja Jadi 'Jembatan Digital' bagi UMKM Lansia
"Dalam 10 bulan sejak saya bekerja, saya kira tujuh di antaranya saya berada di Baghdad karena saya ingin mengenal budayanya," kata Arnold.
"Saya tidak bisa pergi ke mana pun tanpa kehidupan sosial karena ke mana pun saya pergi, saya dikerumuni dan semua orang ingin berfoto dan langsung berlari ke arah saya," lanjutnya.
"Saya melihat cuplikan adegan di Baghdad setelah kemenangan UEA di mana mereka semua berbaris di jalanan dan mengibarkan bendera serta merayakannya. Emosi kemenangan itu sangat besar dan setelah pertandingan selesai, saya harus mengatakan bahwa kami belum lolos kualifikasi," tambahnya.
"Para pemain ini sangat bersemangat untuk melakukannya demi negara mereka," tegasnya.
Editor : Satria Putra Sejati