Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Suporter PSIM dan Persis Bagi Takjil Bersama di Tugu Jogja; Rivalitas Cukup 2 x 45 Menit di Lapangan, setelah Itu Kami Nongkrong dan Ngopi Bareng

Fahmi Fahriza • Minggu, 15 Maret 2026 | 22:00 WIB

SEDULURAN: Para suporter PSIM Jogja dan Persis Solo bersinergi dan membagikan takjil bersama di kawasan Tugu Jogja, Sabtu (14/3) sore.
SEDULURAN: Para suporter PSIM Jogja dan Persis Solo bersinergi dan membagikan takjil bersama di kawasan Tugu Jogja, Sabtu (14/3) sore.

JOGJA - Rivalitas yang terjadi antara suporter PSIM Jogja dan Persis Solo pernah mengalami dinamika dan ketegangan cukup panjang. Situasi ini terutama terjadi sebelum adanya momen rekonsiliasi yang dikenal sebagai "Mataram Islah"  beberapa tahun lalu.

 

Namun kini hubungan antarsuporter kedua kota itu semakin menunjukkan wajah yang berbeda. Hal itu, salah satunya terlihat dari aksi berbagi takjil bersama yang dilakukan sejumlah komunitas suporter di kawasan Tugu Jogja, Sabtu (14/3) sore.

Dalam kegiatan ini, suporter dari komunitas Jogja Pasoepati bersama dua kelompok suporter PSIM yakni Brajamusti X-Code dan Brajamusti Hellblues turun ke jalan untuk membagikan takjil kepada masyarakat yang melintas.

Humas Jogja Pasoepati Achmad Malik menjelaskan, kegiatan tersebut sebenarnya sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir di setiap Ramadan.

 "Ini sebenarnya acara tahunan dari Jogja Pasoepati, bahkan sudah dilakukan sebelum Mataram Islah. Dulu kami hanya bersama satu elemen suporter PSIM, tapi sekarang semakin banyak yang ikut," ujarnya saat dihubungi, Minggu (15/3).

Menurut Malik, inisiatif kegiatan ini berangkat dari keinginan sejumlah suporter yang merasa lelah dengan konflik berkepanjangan antarkelompok suporter di masa lalu.

 "Waktu itu kami berpikir, masa iya mau konflik terus. Kami ingin menunjukkan kalau suporter Jogja dan Solo juga bisa melakukan kebaikan bersama," katanya.

Pada kegiatan tahun ini, sekitar 35 orang suporter dari tiga komunitas itu terlibat dalam aksi berbagi takjil. Seluruh biaya kegiatannya pun berasal dari iuran kolektif masing-masing anggota komunitas.

Malik mengatakan, pemilihan lokasi di kawasan Tugu Jogja bukan tanpa alasan. Selain menjadi ikon kota, tempat tersebut dinilai strategis karena banyak dilalui masyarakat dan mudah terlihat publik.

"Kami sengaja memilih Tugu karena strategis dan sering disorot. Kami ingin menunjukkan bahwa Jogja dan Solo itu tidak selalu ribut, tapi juga bisa seduluran dan berbagi," jelasnya.

 Menurutnya, citra suporter yang sering dianggap identik dengan konflik sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Ia tahu sekaligus percaya banyak pula suporter yang menginginkan sekaligus mengusung kedamaian.

 "Kalau dihitung mungkin yang masih ingin gegeran itu hanya sekitar lima persen saja. Mayoritas suporter Jogja dan Solo sebenarnya sudah damai dan ingin menjaga hubungan baik," ujarnya.

Lebih lanjut Malik menambahkan, kegiatan sederhana seperti berbagi takjil ini diharapkan dapat menjadi simbol bahwa rivalitas sepak bola tidak harus berujung permusuhan.

 "Sepak bola itu selain di lapangan, kadang dampaknya bisa sampai ke kehidupan sehari-hari. Kalau suporternya berantem, masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan bola juga bisa kena imbasnya," ulasnya.

Secara pribadi, ia menilai situasi saat ini jauh lebih baik dan menyenangkan jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Yakni ketika ketegangan antarsuporter sempat memicu berbagai insiden.

"Sekarang alhamdulillah sudah jauh lebih aman. Di Jogja pakai baju Persis aman, di Solo pakai baju PSIM juga aman. Rivalitas tetap ada, tapi harus sehat," ucap Malik.

Melalui kegiatan itu para suporter berharap hubungan baik antara pendukung klub dari Jogja dan Solo dapat terus terjaga ke depannya.

"Pesan kami sederhana, Solo dan Jogja itu bersaudara. Rivalitas cukup di lapangan saja, 2 x 45 menit. Setelah itu, kita tetap bisa nongkrong dan ngopi bareng," tuturnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Persis Solo #Suporter #Brajamusti #Mataram Islah #Rivalitas #ramadan #PSIM Jogja