JOGJA - PSIM Jogja harus puas berbagi poin setelah bermain imbang 2-2 melawan Persijap Jepara pada pekan ke-25 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Rabu (11/3) malam.
Hasil tersebut menjadi laga imbang kedua secara beruntun bagi Laskar Mataram setelah sebelumnya juga bermain tanpa gol melawan Semen Padang.
Sementara bagi Persijap, satu poin di kandang PSIM menjadi hasil penting dalam perjuangan mereka menjauh dari zona degradasi.
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel, menilai pertandingan berlangsung menarik dengan intensitas tinggi. Namun ia menyoroti dua gol Persijap yang tercipta dari situasi bola mati.
"Kita memulai pertandingan dengan sedikit ketidakberuntungan karena kebobolan dari set piece di menit awal. Setelah itu kita bangkit dan berhasil unggul 2-1 di babak pertama," kata Van Gastel dalam konferensi pers usia pertandingan.
Secara pribadi, Van Gastel menilai skema set piece atau bola mati dari tim lawan memang cukup berbahaya.
"Namun di babak kedua kita kembali kebobolan dari set piece. Secara umum mereka tidak punya banyak peluang dari permainan terbuka, tapi mereka berbahaya dalam situasi bola mati," lanjutnya.
Menurut pelatih asal Belanda tersebut, pertandingan berlangsung seru dan menegangkan hingga akhir laga, dengan tempo dan intensitas yang cukup tinggi.
"Bagi para fans, baik fans kita maupun netral, ini pertandingan yang menarik dengan intensitas tinggi. Bahkan bagi saya ini sedikit membuat serangan jantung," ujarnya.
Van Gastel juga menilai lini serang PSIM sudah menjalankan strategi yang diinginkannya dengan menempatkan banyak pemain menyerang.
"Kita ada dua winger dan satu penyerang tengah, jadi empat pemain di depan. Sebenarnya saya ingin memainkan enam pemain menyerang, karena bek sayap dan gelandang bertahan juga harus ikut membantu serangan," jelasnya.
Sementara itu, pemain PSIM Riyatno Abiyoso mengakui timnya kurang maksimal dalam mengantisipasi bola mati yang akhirnya berujung gol bagi Persijap.
"Seperti yang disampaikan coach, Persijap memang punya set piece yang harus diwaspadai dan dua gol mereka memang datang dari situasi itu," kata Abiyoso.
Secara pribadi, ia juga mengaku kecewa karena PSIM gagal meraih kemenangan di kandang sendiri.
"Gagal raih tiga poin di kandang bukan hasil yang kita inginkan. Tapi laga tadi berjalan menarik dengan intensitas tinggi dari kedua tim. Ke depan kita harus bekerja lebih keras lagi untuk laga berikutnya," ujarnya.
Di sisi lain, pelatih Persijap Jepara Mario Lemos menilai pertandingan berjalan bagus dan memuji kerja keras para pemainnya yang mampu mencuri satu poin di kandang PSIM.
"Saya pikir ini pertandingan sepak bola yang bagus. Kami memulai dengan sangat baik dan mencetak gol lebih awal, tetapi kemudian kehilangan kontrol permainan di babak pertama," ujar Lemos.
Menurutnya, perubahan pemain pada babak kedua membantu timnya kembali menemukan ritme permainan hingga akhirnya mampu menyamakan kedudukan.
"Kami memasukkan beberapa pemain yang memberi energi baru. Pada akhirnya kami bisa membuat skor menjadi 2-2 dan bahkan sempat memiliki peluang untuk mencetak gol ketiga," katanya.
Ia juga mengakui bahwa bermain di Bantul bukanlah hal mudah bagi timnya.
"Jogja adalah tim yang sangat bagus dan para penggemarnya juga luar biasa. Satu poin dari sini sangat penting bagi perjuangan kami," tambahnya.
Di sisi lain, salah satu pemain Persijap Jepara Buyung Ismu yang terpilih sebagai Man of the Match (MOTM) turut bersyukur atas hasil yang diraih timnya.
"Saya bersyukur kami bisa mendapatkan satu poin di sini. Ini hasil kerja keras seluruh tim dan apa yang diinstruksikan pelatih bisa kami jalankan di lapangan," kata Buyung. (iza)
Editor : Heru Pratomo