Di tengah keterbatasan infrastruktur pemandu bakat atau talent scouting yang belum merata di sepak bola Indonesia, manajemen Laskar Mataram memilih jalur digital untuk menyusun kekuatan tim.
Manajer PSIM Jogja Razzi Taruna mengakui, bahwa saat ini timnya memang belum memiliki tim pemandu bakat khusus.
Sebagai gantinya, PSIM mengandalkan platform analisis video dan data untuk memantau calon pemain baru.
"Kita sebelumnya murni mengandalkan Vidio.com, kita nonton full match, kita lihat," ungkap Razzi menjelaskan metode yang sempat digunakan saat tim masih berjuang di fase sebelumnya, Jumat (13/2).
Saat ini, seiring dengan ambisi terus bertahan dan berada di kasta tertinggi sepakbola Indonesia, yakni BRI Super League, PSIM mulai meningkatkan standar dengan menggunakan aplikasi analisa profesional.
"Kita punya Wyscout sekarang namanya yang kita pakai untuk analisa pemain," tambah Razzi.
Untuk diketahui, Wyscout sendiri adalah perusahaan dari Italia yang berspesialisasi dalam analisis sepak bola, dan merangkum grafik performa para pemain di seluruh dunia.
Meski begitu, ia mengakui bahwa platform tersebut belum maksimal digunakan musim ini, karena prioritas transfer masih tertuju pada pemain yang sudah memiliki rekam jejak di kompetisi domestik, agar lebih mudah dipantau.
Di samping itu, metode lainnya yakni berkomunikasi intens dengan para agen pemain juga menjadi salah satu metode yang cukup efektif untuk dilakukan.
"Kita ada banyak nama dari agen, kita sortir mana yang kita suka baru kita cek full match-nya masing-masing untuk menemukan pemainnya," jelas Razzi.
Kendati masih mengandalkan teknologi video, Razzi menegaskan bahwa pembentukan tim pemandu bakat tetap masuk dalam rencana jangka panjang klub.
"Pasti dong ada roadmap ke sana. Kita pasti karena utamanya pengembangan infrastruktur dan usia muda," tuturnya. (iza)
Editor : Bahana.