JOGJA - Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM Jogja memastikan laga lanjutan BRI Super League 2025/2026 pekan 18 antara PSIM menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Minggu (25/1), akan digelar tanpa kehadiran suporter tim tamu.
Keputusan diambil setelah Panpel PSIM Jogja menggelar rapat koordinasi intensif bersama pihak kepolisian, manajemen klub, serta perwakilan suporter dari kedua tim. Hasil pertemuan menegaskan komitmen seluruh pihak untuk tetap menjunjung tinggi regulasi kompetisi yang berlaku, khususnya di tengah masa transisi sepak bola nasional.
Manajemen PSIM Jogja sejatinya sangat mengapresiasi hubungan silaturahmi yang selama ini terjalin dengan baik antara pendukung Laskar Mataram dan Bonek Mania. Namun demikian, faktor regulasi dan keamanan menjadi pertimbangan utama yang tidak bisa ditawar.
"Manajemen, panpel beserta pihak kepolisian menghormati dan masih menjunjung tinggi regulasi yang berlaku," ujar Ketua Panpel PSIM Jogja Wendy Umar Selasa (20/1).
Larangan kehadiran suporter tim tamu ini mengacu pada Pasal 5 ayat 7 Regulasi Kompetisi BRI Super League 2025/2026, yang secara tegas melarang pendukung tim tamu hadir langsung di stadion. Atas dasar itu, manajemen dan Panpel PSIM Jogja dengan berat hati belum dapat memfasilitasi kehadiran suporter Persebaya Surabaya pada pertandingan nanti.
"Kami mohon maaf belum bisa menjadi tuan rumah yang baik karena kapasitas Stadion Sultan Agung sangat terbatas," tutur Wendy.
Selain aspek regulasi dan keterbatasan kapasitas stadion, pertimbangan sosiologis dan hubungan dengan lingkungan sekitar stadion turut menjadi perhatian serius. PSIM menyadari penggunaan SSA di Bantul menempatkan klub dalam posisi sebagai tamu wilayah, sehingga komunikasi dan penghormatan terhadap pemangku kepentingan setempat menjadi hal yang sangat penting.
"Selain itu, karena kita bermain di Bantul dan posisinya juga sebagai 'tamu', kita wajib menghormati tuan rumah, yakni Pemkab Bantul, Kapolres Bantul, serta warga sekitar stadion yang jalinan komunikasinya sampai saat ini masih berjalan baik," tambah Wendy.
Diakui, faktor keamanan menjadi alasan krusial dalam pengambilan keputusan ini. Rekam jejak insiden pertandingan di wilayah Bantul pada masa lalu masih menyisakan trauma bagi masyarakat sekitar stadion. Hal itu menjadi perhatian khusus Polres Bantul guna menjaga stabilitas keamanan dan kenyamanan warga. "Alasan utamanya regulasi dan faktor keamanan," tegas Wendy.
Pihak kepolisian juga meminta kerja sama aktif dari Panpel dan manajemen PSIM Jogja untuk menyosialisasikan keputusan secara masif. Langkah preventif diharapkan dapat meminimalisasi potensi kedatangan suporter tim tamu yang berisiko menimbulkan gangguan keamanan maupun berujung sanksi disiplin bagi klub.
"Polres menyampaikan kepada panpel dan manajemen PSIM untuk ikut mengunggah imbauan agar suporter tim tamu tidak datang ke Jogja," jelasnya.
Sementara itu, sikap dewasa ditunjukkan dua kelompok suporter PSIM, Brajamusti dan The Maident. Keduanya menyatakan komitmen penuh untuk menjaga kondusivitas wilayah serta menghormati keputusan bersama, meskipun memiliki hubungan persaudaraan yang erat dengan Bonek, Green Nord, dan seluruh elemen suporter Persebaya Surabaya.
"Mereka tetap menjaga silaturahmi yang baik dengan teman-teman dari Surabaya. Mereka juga menghormati keputusan ini, yaitu tetap menjunjung tinggi regulasi sesuai arahan kapolres dan hasil koordinasi bersama," tandas Wendy. (iza/laz)