Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Manajer PSIM Jogja Razzi Taruna Buka Alasan terkait Belum Agresifnya Laskar Mataram di Bursa Transfer

Fahmi Fahriza • Selasa, 13 Januari 2026 | 22:00 WIB
Manajer tim PSIM Jogja Razzi Taruna
Manajer tim PSIM Jogja Razzi Taruna

JOGJA - Bursa transfer pemain paruh musim di kompetisi BRI Super League 2025/2026 telah resmi dibuka sejak 10 Januari dan akan berlangsung hingga 6 Februari. Namun hingga memasuki pekan awal masa transfer, PSIM Jogja masih belum menunjukkan pergerakan signifikan dalam mendatangkan pemain baru.

Di saat sejumlah klub lain mulai agresif memperkuat komposisi tim untuk menghadapi putaran kedua kompetisi, manajemen Laskar Mataram memilih bersikap lebih tenang. Alih-alih menambah amunisi, PSIM justru telah melepas tiga pemain dari skuad utama.

Tiga pemain itu Iksan Chan dan Diandra Diaz yang dipinjamkan ke FC Bekasi City hingga akhir musim, serta Rafael Rodrigues atau Rafinha yang resmi dilepas ke PSIS Semarang. Dengan keluarnya ketiga nama itu, jumlah pemain PSIM kini tersisa 26 pemain.

Manajer tim PSIM Razzi Taruna memastikan, keputusan melepas pemain tersebut telah dipikirkan dari berbagai aspek. Di samping itu turut ada dana masuk ke klub PSIM dari keluarnya tiga nama tersebut. Namun ia menegaskan, secara keseluruhan, kebutuhan anggaran tim sejatinya telah terpenuhi sejak awal musim.

"Ada (dana masuk), pasti ada dong. Kan gini, memang pastinya ada dari kita melepas pemain pasti ada budget yang di-save dalam tanda kutip," ujar Razzi Selasa (13/1).

Meski demikian, Razzi menjelaskan ruang anggaran itu pada dasarnya sudah terserap lebih dulu oleh rekrutmen pemain sebelumnya. Mereka adalah Anton Fase dan Donny Warmerdam yang menurutnya sudah melampaui proyeksi anggaran awal klub.

"Sebetulnya dari awal kita memang ambil Anton dan Donny pun itu juga sudah melebihi budget. Jadi memang secara budget memang sudah memenuhi lah,"lanjutnya.

Dengan kondisi itu, manajemen PSIM memilih memaksimalkan skuad yang ada saat ini. Fokus utama klub adalah memastikan target bertahan di kasta tertinggi dapat tercapai dengan aman, tanpa harus memaksakan belanja pemain di paruh musim.

"Balik lagi karena target kita juga bertahan dengan nyaman, saat ini tim yang kita punya ini kita maksimalkan," tegas Razzi.

Razzi juga menyinggung soal ekspektasi publik, termasuk para suporter terhadap PSIM sebagai tim promosi. Ia menilai harapan tinggi dari suporter adalah hal yang wajar, namun perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa klub masih dalam tahap belajar di level tertinggi sepak bola nasional.

"Bukan berarti kita enggak boleh berharap lebih tinggi, boleh kok. Saya pun juga sama, tapi kita juga harus ingat kita ini tim promosi, kita masih belajar," ungkapnya.

Razzi turut mengaitkan kondisi itu dengan pernyataan Dirut PSIM Liana Tasno yang sebelumnya menyebut Super League merupakan pengalaman baru bagi manajemen klub. "Ini hal yang baru buat Cici (Liana Tasno). Begitu pun juga buat saya, buat tim PSIM juga. Ini hal yang baru buat kita semua berkompetisi di kasta tertinggi ini," katanya.

Kendati demikian, PSIM tetap membuka ruang untuk bermimpi dan berkembang lebih jauh. Namun menurut Razzi, proses tersebut harus dijalani secara bertahap dan realistis, mengingat ketatnya persaingan di Super League.

"Ekspektasinya bukan berarti kita enggak boleh bermimpi, boleh. Kita juga pengen bisa lebih baik dari yang sekarang, tapi ya balik lagi kita tim promosi. Kita harus pelan-pelan dan belajar untuk bisa bersaing dengan tim-tim papan atas," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Razzi Taruna #PSIM #BRI Super League 2025/2026 #bursa transfer pemain #FC Bekasi City #Paruh Musim #pemain baru #PSIM Jogja