JOGJA – Kesuksesan PSIM Jogja bercokol di papan atas BRI Super League musim 2025/2026 ini ada peran dari Direktur Teknis PSS Pieter Huistra. Hal itu diungkapkan langsung oleh pelatih PSIM Jogja Jean-Paul Van Gastel.
"Pieter Huistra dan saya kadang makan malam bersama. Kami berada dari tim yang sama di Jogjakarta dan kami juga bekerja di Jogjakarta bersama," ungkapnya, Rabu (8/10). Kebetulan keduanya sama-sama meneer Belanda.
Keberadaan Huistra yang lebih lama bekerja di Indonesia membantu proses adaptasi.
Menurut Van Gastel, hubungannya dengan Pieter Huistra tak hanya sebatas keakraban sosial. Tetapi juga melibatkan diskusi mendalam mengenai dunia sepak bola di Indonesia.
Van Gastel mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Huistra di Jogjakarta.
"Ketika saya datang ke sini dia memberi saya banyak saran tentang sepak bola dan perkembangan sepak bola di Indonesia," lontarnya.
Baca Juga: Manfaatkan Kuota di TPST Piyungan, Pemkot Jogja Angkut 1.500 Ton Sampah dalam Hitungan hari
Van Gastel merasa beruntung bisa memiliki rekan sejawat dari negara yang sama untuk berbagi pengalaman. Terutama dalam menjalani karier kepelatihan di luar negeri.
"Kami bisa untuk sharing pengalaman. Pieter dan saya, kami begitu, berbagi pengalaman," cetusnya.
Bagi Van Gastel, keterbukaan dan keinginan untuk berbagi pengetahuan tersebut menunjukkan sisi profesionalisme keduanya. Sebab persahabatan dapat terjalin di luar perbedaan klub.
Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Dorong Perbanyak Sekolah Unggulan
Van Gastel juga berbagi pandangannya mengenai pengalamannya bekerja di Indonesia. Sebagai pelatih asing, adaptasi terhadap budaya baru adalah sebuah tantangan. Namun, pelatih berusia 53 tahun ini melihatnya sebagai proses yang positif dan berharga.
Van Gastel menyatakan bahwa dirinya tidak mengalami culture shock, melainkan hanya menemukan perbedaan.
"Tidak ada yang lebih baik maupun buruk. Seperti yang saya katakan, saya suka bekerja di luar negeri seperti ini," ujar eks pelatih NAC Breda itu.
Tak hanya itu, Van Gastel juga memiliki terkait kariernya di Indonesia ini sebagai bagian dari pengembangan diri dan penyesuaian hidup. Dia mengaku belajar kultur dan orang yang berbeda. Bagaimana pendekatan secara personal. “Jadi menurut saya itu bagus untuk pengembangan diri saya secara personal," tandasnya. (ayu/pra)
Editor : Heru Pratomo