JOGJA - Dukungan suporter dari tribun melalui nyanyian dan teriakan lantang sudah menjadi hal lumrah. Namun, hal berbeda dilakukan Brajamusti saat mendukung PSIM Jogjakarta pada laga kandang perdana pekan kedua BRI Super League 2025/2026 kontra Arema FC di Stadion Sultan Agung Bantul, Sabtu (16/8) lalu.
Koordinator Humas Brajamusti Hasting Pancasakti menyampaikan, selain mendukung langsung dari tribun, Brajamusti juga memberikan surat personal kepada seluruh pemain, jajaran pelatih, hingga staf manajemen PSIM.
"Kurang lebih ada 35 surat yang kami berikan, dengan nama masing-masing pemain, pelatih, dan staf," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (19/8).
Baca Juga: Maling Ditangkap Jajaran Polres Purworejo Usai Tawarkan Motor Curian di Media Sosial
Hasting menjelaskan, inisiatif ini lahir secara kolektif dari anggota Brajamusti, termasuk Presiden Brajamusti Muslich “Thole” Burhanudin. Mereka ingin memberikan dukungan berbeda di momen spesial, yakni laga kandang perdana PSIM di kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah penantian panjang 18 tahun.
"Ini sebenarnya spontanitas, persiapannya hanya sekitar dua sampai tiga hari. Dari ide penulisan surat sampai akhirnya kami bagikan," terangnya.
Menurut Hasting, tujuan surat tersebut adalah sebagai bentuk dukungan nyata dan penuh hati dari Brajamusti. Ia menegaskan bahwa surat ini tidak dimaksudkan untuk mengintervensi teknis permainan atau keputusan pelatih.
"Kami ingin mendukung PSIM dengan respect. Kami tahu batasannya, jadi tidak ada intervensi misal siapa yang harus dimainkan atau tidak," katanya.
Ia menuturkan, awalnya, setiap surat direncanakan memiliki narasi berbeda untuk tiap pemain. Namun karena keterbatasan waktu, konsep itu belum bisa direalisasikan. Meski begitu, seluruh surat tetap ditulis personal dengan menyebut nama penerima, dilengkapi amplop warna biru khas PSIM, serta jersey bertuliskan nama yang dituju.
Hasting menambahkan, dukungan lewat surat seperti ini mungkin tidak akan diberikan pada setiap laga. Menurutnya, jika terlalu sering dilakukan, makna dan marwah dari surat tersebut justru bisa berkurang.
Baca Juga: Gagap Teknologi (Gaptek) Masih Jadi Kendala Pelaku UMKM Kota Jogja Rambah Pemasaran Digital
"Kami pilih momen yang tepat. Kalau setiap pertandingan diberi surat, bisa jadi sekadar template saja," ucapnya.
Untuk diketahui, surat sendiri ditulis dalam dua versi, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris bagi pemain serta pelatih asing.
Salah satu isi surat berbahasa Inggris berbunyi: "We never care where you come from. As long as you wear PSIM attributes, you are family to us. There are no eternal enemies, but when you’re on the field, every team is an enemy that must be defeated. Every match is a final that must be won. Play with heart, like a true knight defending the banner of Laskar Mataram."
Adapun versi bahasa Indonesianya menyampaikan pesan serupa:
"Kami tidak pernah peduli dari mana asal kalian. Selama menggunakan atribut PSIM, bagi kami kalian adalah keluarga. Tidak ada musuh abadi, tapi ketika sudah berada di lapangan, semua tim adalah musuh yang harus dikalahkan. Setiap laga adalah final yang harus dimenangkan. Bermainlah dengan hati layaknya ksatria sejati pembela panji Laskar Mataram."
Terkait surat yang diberikan secara menyeluruh, bukan hanya pada pemain, Hasting menyampaikan bahwa seluruh elemen tersebut merupakan satu kesatuan penting yang membentuk PSIM. Dari pemain, pelatih, manajemen, hingga suporter, semuanya saling berkaitan.
Hasting menegaskan, bahwa Brajamusti ingin membangun relasi yang berlandaskan rasa saling menghormati dengan tim. Dengan dukungan positif, ia yakin para pemain, pelatih, dan seluruh elemen PSIM akan memberikan kemampuan terbaiknya untuk Laskar Mataram. (iza)
Editor : Heru Pratomo