Sejak pertama kali menyaksikan laga Laskar Mataram pada medio 2004, saat ia masih duduk di bangku SMP, kecintaannya kepada klub kebanggaan Kota Jogja itu tumbuh semakin kuat.
FAHMI FAHRIZA, RADAR JOGJA
Alumnus Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyadari satu hal penting, PSIM tidak memiliki sistem pengarsipan yang rapi dan berkelanjutan.
Padahal, menurutnya, sejarah adalah bagian yang tak terpisahkan dari identitas klub dan suporternya.
"Dari situ saya mulai mengumpulkan arsip, mencatat, dan menarasikan ulang kisah PSIM agar tidak hilang," kata Dimaz pada Radar Jogja, Selasa (12/8).
Singkat cerita, kegelisahan tersebut kemudian melahirkan Bawahskor pada 2010. Nama itu diambil dari lokasi bawah papan skor Stadion Mandala Krida, tempat Dimaz dulu menjadi bagian dari chord musik Brajamusti.
"Posisi chord-nya memang di bawah papan skor. Dari situ saya ambil filosofinya," jelasnya.
Awalnya, Bawahskor bergerak sederhana, yakni memproduksi merchandise bertema PSIM, seperti kaus atau poster, yang sebagian hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan komunitas.
Namun sejak 2013, arah gerakan mulai meluas. Dimaz mulai mengoleksi dan mendigitalisasi arsip koran lama yang memuat berita tentang PSIM, lalu membagikannya ke publik melalui berbagai medium, foto, tulisan, video, hingga pameran.
Hampir satu setengah dekade berkutat di dunia arsip membuat Dimaz sudah menggelar beberapa pameran penting.
Di antaranya, pameran arsip Piala Soeratin 1992 yang digelar pada 2015, serta Museum of Laskar Mataram yang sudah berlangsung dua kali, pada 2021 dan 2025.
"Bawahskor sekarang sudah bukan saya sendiri. Sudah ada lima orang yang tergabung dan menggawangi gerakan ini secara kolektif," paparnya.
Meski sudah memiliki berbagai capaian dan memori pengarsipan, Dimaz mengaku memiliki satu mimpi besar yang masih ia perjuangkan, yakni membuat pameran yang menarasikan sejarah panjang PSIM sejak berdirinya di tahun 1929 hingga hari ini.
"Misi besarnya bikin pameran sejarah soal berdirinya PSIM. Harapannya ini bisa disambut positif dan dikolaborasikan dengan manajemen klub," ujarnya.
Ia menegaskan, pameran tersebut bukan sekadar untuk ajang selebrasi, tapi juga sarana edukasi, terutama bagi suporter generasi baru yang mungkin belum banyak mengenal sejarah klub.
Selain pengarsipan, Bawahskor aktif menggelar berbagai program sosial dan literasi. Mereka menerbitkan majalah atau zine yang dibagikan gratis kepada suporter seusai pertandingan, mengadakan kampanye tribun bebas asap rokok, hingga program bersih-bersih stadion sebelum dan sesudah laga.
Tidak jarang, mereka juga mengadakan tur sejarah sepak bola dan prototyping museum yang memadukan cerita, foto, dan memorabilia.
"Kita terus suarakan hal-hal yang bikin tribun nyaman, bebas asap rokok, aman, bersih dari sampah. Itu semua bagian dari cara kita merawat ekosistem sepak bola," tambah Dimaz.
Dengan kerja kolektif yang konsisten, Bawahskor kini tak sekadar menjadi komunitas pengarsip sejarah, tapi juga ruang interaksi dan edukasi bagi siapa pun yang mencintai PSIM.
Lewat dokumentasi, pameran, dan aksi nyata di tribun, mereka membuktikan bahwa dukungan kepada klub bisa melampaui 90 menit pertandingan.
Sejauh ini, meski belum ada kolaborasi resmi dengan manajemen PSIM, Dimaz tetap optimistis peluang itu akan datang di kemudian hari.
"Sudah beberapa kali sounding, tapi memang belum ada langkah konkret. Semoga nanti ada kolaborasi yang bermanfaat," harapnya. (iza)
Editor : Bahana.