JOGJA - Nama Mohamad Irfan, atau M Irfan mungkin tidak asing bagi para pendukung setia Laskar Mataram.
Pria asal Tegal ini adalah salah satu legenda PSIM Jogja yang lekat dengan nomor punggung 17, dan permainan khasnya dari sisi kiri lapangan.
Saat PSIM kembali menapaki kasta tertinggi sepak bola Indonesia, kenangan masa lalu dan harapan masa depan datang dari sosok yang pernah menjadi bagian penting dari klub kebanggaan Brajamusti dan The Maident itu.
"Setelah sekian lama, PSIM akhirnya kembali ke Liga 1. Bahagia dan bangga. Ini adalah strata yang sudah lama ditunggu semua pihak, termasuk saya," ungkap M Irfan pada Radar Jogja, Kamis (7/8).
Dari PSIS ke PSIM: Cerita Awal Sebuah Ikatan
Karier profesional M Irfan dimulai di PSIS Semarang, pada saat usia 19 tahun, dan perjalanan istimewanya bersama PSIM dimulai pada tahun 2005, saat dirinya bergabung pertama kali ke klub kebanggaan warga Jogja tersebut.
Meski awalnya hanya pemain cadangan, kesempatan untuk membuktikan diri akhirnya datang saat pelatih Sofyan Hadi memintanya bermain di posisi berbeda, dari wing kanan ke wing kiri, melawan Persija dan menghadapi langsung Ismed Sofyan.
"Itu titik balik saya. Dari situ, saya dapat kepercayaan penuh, dan sampai 2008, saya tidak pernah lagi duduk di bangku cadangan," kenangnya.
Kecintaan yang Tak Pernah Pudar
Meski sempat hengkang karena krisis keuangan klub pasca gempa Jogja 2006 dan penghentian APBD, Irfan tetap memegang teguh loyalitasnya.
Irfan sempat bermain di beberapa klub lain rentang 2008 hingga 2011.
Akhirnya ia kembali ke PSIM pada musim 2012-2013, walaupun harus kembali hengkang setelahnya.
"PSIM punya tempat spesial di hati saya. Saya menangis saat pamit. Saya tidak pamit dengan jelek atau meninggalkan kesan buruk," ujarnya.
Baginya, atmosfer Jogja dan hubungan emosional dengan para suporter PSIM menjadi alasan utamanya merasa begitu dekat, dan diterima dengan baik.
"Saya ingin membalas kebaikan manajemen dan suporter dengan bermain bagus. Main saya jadi nyaman, output-nya juga enak. Sampai sekarang, saya masih komunikasi dengan manajemen dan teman-teman satu tim dulu," paparnya.
Pensiun, Pendidikan, dan Pilihan Jalan Baru
Pada akhirnya, M Irfan mengakhiri karier sepak bolanya pada 2015 di usia 34 tahun, cedera lutut yang dideritanya sejak 2014 jadi salah satu alasannya memantapkan tekad untuk gantung sepatu.
Meski berat, jalan baru sudah terbuka, ia akhirnya mendapat kesempatan akademik untuk melanjutkan S2 di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Tempat ia mengemban pendidikan S1, dan kini juga tempatnya mengajar sebagai dosen pendidikan olahraga.
"Saya tidak pernah ekspektasi jadi dosen. Tapi saya percaya pendidikan itu lebih panjang usianya daripada karier pemain bola. Sepak bola penting, tapi pendidikan lebih penting," terangnya.
Meski kini fokus mengajar dan bolak-balik Tegal-Semarang demi keluarganya, Irfan juga belum sepenuhnya meninggalkan dunia sepak bola.
Ia masih aktif sebagai talent scout resmi PSSI di wilayah Jawa Tengah, dan tetap memantau potensi muda.
Di samping itu, ia juga memiliki rentetan karir di staf kepelatihan sejak 2015an. Namun, untuk tahun ini ia memilih berhenti sejenak dari rutinitas kepelatihan, dan berfokus pada akademik serta keluarganya.
Editor : Bahana.