Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Legenda PSIM Susilo Harso Pernah Hadapi Ruud Gullit dan Van Basten, Simak Kisahnya...

Fahmi Fahriza • Rabu, 6 Agustus 2025 | 01:45 WIB

Dokumen  pribadi Susilo Harso
Dokumen pribadi Susilo Harso
Menjadi pesepakbola bukan sekadar pilihan karier bagi Susilo Harso, melainkan perjalanan hidup yang mengubah sekaligus membentuk dirinya hingga saat ini.

Lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut, dikenal sebagai salah satu legenda PSIM Jogjakarta, yang setia membela panji Laskar Mataram lebih dari satu dekade lamanya.

"Awal main tahun 1978, saya masuk tim Soeratin. Saya masih SMA. Lalu masuk tim junior karena ada talent scouting di kompetisi antar klub, saya main di klub Hizbul Wathan (HW), akhirnya ke PSIM," katanya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (5/8).

Susilo mulai aktif bermain di tim senior PSIM sejak 1981, dan bertahan hingga memutuskan gantung sepatu pada tahun 1993. Ia pensiun pada usia 31 tahun, dan selama itu hanya memperkuat satu tim, PSIM.

Padahal, godaan dari tim lain sempat datang. Salah satunya adalah dari Petrokimia Gresik. Namun Susilo menolak, dan memilih bertahan di PSIM, klub yang akhirnya turut membesarkan namanya.

"Sepak bola itu bukan hanya hobi, tapi juga sarana mencari penghasilan. Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu, jadi sepak bola menjadi jalan keluar kala itu," ujarnya.

Menariknya, sejak 1983 Susilo juga bekerja sebagai staf di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Dua peran itu ia jalani secara bersamaan, sebagai pemain PSIM sekaligus pegawai kampus.

"Total kerja saya di UAJY sampai 39 tahun. Tapi sejak awal, saya diberi ruang untuk tetap bermain di PSIM," ujarnya.

Meski zaman itu jauh dari gemerlap sepak bola profesional hari ini, Susilo tetap menjalaninya dengan sepenuh hati. Ia mengenang bahwa mengalami banyak dinamika naik turun di persepakbolaan.

Salah satu yang diingatnya, adalah sistem pembayaran di masanya yang bukan dengan sistem kontrak semusim, tetapi dibayar setiap pertandingan.

"Waktu itu gaji per laga mulai dari Rp5.000, lalu naik jadi Rp7.000, kadang Rp15.000. Semua tergantung pertandingan dan lawannya," sebutnya.

Namun pengalaman yang paling membekas bagi Susilo bukan hanya soal gaji, melainkan kesempatan emas yang pernah ia alami di lapangan hijau.

Diingatnya, salah satu pengalaman paling berkesannya adalah saat PSIM beruji coba dengan tim KNVB Belanda sekitar tahun 1986 atau 1987 di Stadion Mandala Krida.

Legenda PSIM Jogja Susilo Harso,
Legenda PSIM Jogja Susilo Harso,

Kala itu, tim lawan diperkuat bintang-bintang muda yang kemudian mendunia, antara lain adalah Ruud Gullit dan Marco van Basten.

"Kalau tidak salah, tim Belanda itu tim mudanya Timnas. Hasilnya kita kalah 5-0," kenangnya.

Selain itu, ia juga sempat bermain melawan Hallelujah FC dari Korea Selatan, yang sebagian besar diisi oleh pemain tim Olimpiade negeri ginseng kala itu.

Di atas lapangan hijau, Susilo dikenal sebagai pemain bertahan yang serba bisa.

Posisi utamanya adalah wing back kanan, namun ia juga sering dimainkan sebagai gelandang bertahan. Ia juga sempat identik dengan nomor punggung 16.

"Dulu saya ingin nomor 7, tapi sudah dipakai senior. Akhirnya pilih nomor 16, karena 1+6 itu 7," jelasnya sambil tertawa.

Baginya, sepak bola adalah laboratorium kehidupan. Ia menyebut banyak nilai hidup yang ia petik dari dunia kulit bundar, mulai dari disiplin, tanggung jawab, bersosialisasi, hingga belajar kompromi.

Meski sudah pensiun dari lapangan hijau, Susilo tak sepenuhnya lepas dari sepak bola.

Ia rutin bermain bersama Paguyuban Legend PSIM setiap bulan, sempat menjadi pelatih tim Soeratin PSIM, hingga kini masih aktif sebagai koordinator pelatih di Sekolah Sepak Bola Gadjah Mada (SSB Gama).

"Saya bisa melahirkan generasi baru pesepakbola yang bagus, itu salah satu kebanggaan terbesar," tandasnya. (iza)

Editor : Bahana.
#Marco Van Basten #PSIM #ruud gullit #Laskar Jogja #Legenda PSIM Susilo Harso