Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wadah Suporter PSIM Jogja Brajamusti Ingin Menjaga Marwah Mataram is Love Selamanya

Fahmi Fahriza • Jumat, 25 Juli 2025 | 04:45 WIB

 

Suporter menyambut kedatangan PSIM di Tugu
Suporter menyambut kedatangan PSIM di Tugu

 

JOGJA - Menyongsong musim perdana PSIM Jogja kembali berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, BRI Super League 2025/2026, doa dan harapan mengalir deras dari Brajamusti, kelompok supporter setia Laskar Mataram. 

Bagi mereka, mendukung PSIM tak hanya soal rivalitas 90 menit di lapangan, tetapi juga tentang menjaga marwah perdamaian.

Termasuk semangat kampanye Mataram is Love yang lahir pascatragedi Kanjuruhan 2022.

Salah seorang anggota Brajamusti, Bayu Akbar yang sudah mendukung PSIM sejak 2010, mengisahkan selama 15 tahun ia rutin mendukung langsung tim kebanggaannya, baik laga kandang maupun tandang ke berbagai kota.

"Seingat saya salah satu away terjauh itu ke Bali. Belum terlalu jauh mungkin dibandingkan teman-teman lain yang lebih senior," ujarnya Kamis (24/7).

Dari banyak perjalanan mendukung PSIM, Bayu mengingat setidaknya ada dua momen yang paling membekas baginya. Pertama, saat PSIM mendapat sanksi pengurangan poin hingga minus 9.

Kedua, momen istimewa ketika PSIM menjadi juara Pegadaian Liga 2 2024/2025 dan berhasil promosi ke kasta tertinggi.

"Selalu masih merinding kalau cerita dan ingat momen juara itu. Apalagi saya nonton langsung ke stadion Manahan," kenangnya.

Secara pribadi Bayu mengaku tak menuntut banyak untuk musim ini. Selain harapan sederhana agar PSIM bisa bertahan di Liga 1 dan tak hanya sekadar numpang lewat.

"Intinya semoga bertahan dan tidak bikin kita deg-degan tiap minggu," kelakarnya.

Bagi Bayu, PSIM sudah menjadi belahan jiwanya dan Brajamusti adalah bagian yang juga tidak terpisahkan.

Ia menegaskan, sebagai suporter menjaga marwah Mataram is Love adalah kewajiban kolektif yang dijunjung tinggi.

"Sebagai suporter tentu pengen semua damai. Rivalitas itu cuma 90 menit di lapangan. Di luar itu semua bersaudara," harap Bayu.

Senada dengan Bayu, Faiz Fatih, suporter PSIM yang mulai mendukung sejak 2012 juga menegaskan pentingnya menjaga budaya positif di tribun dan luar lapangan. 

Ia menyebut, kampanye Mataram is Love bukan sekadar slogan, tetapi gerakan nyata untuk menegaskan persaudaraan suporter PSIM, PSS Sleman, dan Persis Solo.

"Contohnya di tribun, kalau ada chant rasis pasti selalu kami ingatkan dan larang. Budaya ini terus kami gaungkan agar jadi supporter yang dewasa dan mendukung secara sehat," kata Faiz. (iza/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Persis Solo #PSS Sleman #Mataram is Love #Super League #Brajamusti #Laskar Mataram #suporter PSIM #PSIM Jogja