RADAR JOGJA - PSS Sleman secara resmi terdegradasi ke Liga 2 setelah melewati kompetisi Liga 1 musim 2024/2025 yang penuh dengan gejolak.
Penurunan kasta ini memicu keprihatinan dari berbagai pihak.
Terutama Askab PSSI Sleman yang menyoroti pergeseran manajemen tim dalam beberapa tahun terakhir.
Ketua Askab PSSI Sleman Wahyudi Kurniawan menilai kemunduran PSS Sleman berawal sejak tim dipegang oleh manajemen dari luar Kabupaten Sleman.
Sebab menurutnya orang dari luar Kabupaten Sleman itu tidak memiliki ikatan emosional dan rasa memiliki Laskar Sembada.
"Duit penting, anggaran juga penting. Cuma ya rasa itu juga penting," ucapnya, Rabu (28/5).
Bukan tanpa alasan, Wahyudi mengatakan hal tersebut, sebab dibeberapa musim terakhir, setelah orang-orang luar Sleman memegang kendali manajemen, PSS Sleman selalu terseok-seok di papan bawah kompetisi Liga 1.
Lebih parahnya lagi, musim 2024/2025 ini tim kebanggaan masyarakat Sleman harus terdegradasi di Liga 2.
Sehingga mau tidak mau pihak Askab PSSI Sleman meminta kepada manajemen PSS Sleman segera mundur dari jabatannya.
Sebab baginya di Kabupaten Sleman sendiri sebenarnya mempunyai sumberdaya manusia (SDM) untuk memegang manajemen tim Super Elja, keberadaan orang-orang Sleman dalam jajaran manajemen sangat krusial untuk menjaga jiwa di dalam tubuh Laskar Sembada.
"Jangan sampai wong Sleman ilang Sleman e. Ya harus ada orang-orang Sleman, kalau hanya satu dua orang itu kurang," ujarnya.
Askab juga mendesak agar tim Super Elang Jawa sebagai klub eks perserikatan bisa melibatkan kembali klub-klub pendiri tim yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1976 silam itu sebagai pendukung, baik secara fisik maupun non-fisik.
"Ini saatnya PSS kembali ke fitrahnya dengan tanpa mengesampingkan investor dan sebagainya. Kombinasikan antara semangat yang selama ini membangun PSS Sleman dan investor seperti klub-klub eks perserikatan lainnya," bebernya.
Askab PSSI Sleman sangat berharap, dengan adanya pemberdayaan terhadap elemen-elemen lokal yang selama ini menjadi fondasi bagi PSS Sleman.
Meski saat ini sedang terdegradasi ke depan diharapkan Laskar Sembada bisa kembali bertanding di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dengan identitas dan semangat yang lebih kuat.
"Selama ini di Sleman orang-orangnya hanya dijadikan alat. Maka itu harus mulai dimunculkan, karena PSS merupakan eks perserikatan," tegasnya. (ayu).
Editor : Bahana.