Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ingin Final Liga 2 Jadi Mataram is Love, Manajemen Juga Berharap Bisa Satukan Suporter PSIM Jogja dan Persis Solo

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 24 Februari 2025 | 03:02 WIB
ribuan suporter berkonvoi menuju Tugu Pal Putih Jogja yang menjadi logo PSIM Jogja Senin (17/2/2025) petang
ribuan suporter berkonvoi menuju Tugu Pal Putih Jogja yang menjadi logo PSIM Jogja Senin (17/2/2025) petang

 

 

 

JOGJA - Manajemen PSIM Jogja resmi mengajukan perubahan lokasi pertandingan final Liga 2 2024/2025 kepada PT Liga Indonesia Baru (PT LIB). Laga antara PSIM Jogja melawan Bhayangkara Presisi FC yang semula akan digelar di Stadion Mandala Krida Jogja, dipindahkan ke Stadion Manahan Solo, Rabu (26/2).

Keputusan ini diambil karena jadwal laga final Liga 2 itu bertepatan dengan jadwal acara lain yang telah lama direncanakan di Stadion Mandala Krida. Manajemen menyadari potensi kekecewaan yang mungkin timbul akibat perubahan lokasi final ini, terutama para pendukung setia PSIM yang telah menantikan laga di kandang sendiri.

Namun setelah mempertimbangkan semua faktor, termasuk ketersediaan stadion alternatif yang memenuhi standar keselamatan dan kelayakan, maka manajemen PSIM yakin pemindahan laga dari Stadion Mandala Krida ke Stadion Manahan adalah solusi terbaik. Ini  untuk memastikan kelancaran final tersebut.

Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno menjelaskan, pemindahan venue pertandingan memang bukan tanpa alasan. Manajemen sudah berupaya semaksimal mungkin bisa merayakan kemenangan di Kota Jogja. Tapi apa daya, dari berbagai hal yang sudah diupayakan, PSIM harus mengelar laga final di luar Jogja.

Meski tidak bisa menggelar laga final di Jogja, wanita yang akrab disapa Liana ini mengaku tetap berpikir positif. Mengingat saat ini PSIM juga sudah lolos ke Liga 1 musim depan dan juga di laga final nanti Laskar Mataram bisa bermain di homebase rivalnya sendiri, Persis Solo.

Dengan terselenggaranya final di Stadion Manahan Solo, manajemen PSIM sangat ingin hal itu bisa menjadi pemersatu antara dua wadah suporter PSIM Jogja dan dua wadah suporter dari Persis Solo. Harapanya, dapat menambah tali persaudaraan di antara mereka.

"Ini memang indahnya sepak bola Indonesia. Di mana sepak bola Indonesia memang sebenarnya alat pemersatu, bukan alat pemecah belah," katanya kemarin (23/2).

Liana juga  berharap, ketika nanti PSIM sudah bermain di Liga 1, suporter juga harus bisa naik kelas dan dewasa. Dalam artian, manajemen ingin ke depan bisa menjadi role model sepak bola di Indonesia. Manajemen juga ingin suporter juga bisa menjadi role model untuk suporter.

Selain itu, lanjut Liana, laga final PSIM melawan Bhayangkara FC nanti akan berlangsung sore hari, sudah menjadi pertimbangan LIB dan PSSI. "Memang ini bukan menjadi ranah saya untuk menjawab. Tapi dari operator," lontarnya. (ayu/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Solo #Persis Solo #final #Mataram is Love #Sepak Bola #Stadion Manahan #Yuliana Tasno #Liga 2 #Liga 1 #PSIM Jogja