RADAR JOGJA – Pengacara yang mewakili para penggemar Liverpool yang menderita kerugian fisik dan psikologis pada laga final Liga Champions 2022 di Paris mengatakan UEFA berusaha mencegah kasus Kerusuhan di luar Stade de Frances disidangkan di Pengadilan Inggris.
Final Liga Champions 2022 dilangsungkan Stade de Frances, Prancis, antara Liverpool menghadapi Real Madrid.
Dalam partai final itu, para penggemar The Reds ditahan dan dilempari gas air mata oleh polisi di luar Stade de Frances.
Firma hukum Leigh Day mengatakan Badan Sepak Bola (UEFA) tersebut tak ingin klaim tersebut disidangkan di Pengadilan Tinggi Liverpool.
Seorang perwakilan UEFA menolak memberikan komentar terkait proses yang sedang berlaku.
Firma Hukum tersebut menginginkan kasus tersebut disidangkan di Liverpool. Namun, UEFA menilai kasus tersebut tidak boleh dilakukan di Inggris dengan alasan setiap keputusan mengenai tindakan Negara Prancis, seperti polisi harus disidangkan juga di Prancis.
Firma Hukum Leigh Day mewakili sekitar 1.100 penggemar yang mengklaim UEFA gagal memastikan lingkungan yang aman dan terjami bagi para penggemar.
Mitra dari Firma Hukum tersebut, Clare Campbell dan Jill Paterson mengungkapkan “Bagi UEFA, yang mencoba mengalihkan perhatian dari peran kunci yang kami yakini berperan dalam kegagalan organisasi dan keselamatan adalah hal yang sangat mengecewakan,”
"Ribuan suporter terluka dan mengalami trauma bahkan sekarang, 20 bulan setelah hari yang menentukan itu, banyak dari mereka yang terkena dampak masih terus berurusan dengan efeknya," imbuh Clare Campbell dan Jill Paterson.
Mereka menambahkan jika mereka sangat yakin bahwa Pengadilan Tinggi di Liverpool adalah pengadilan yang tepat untuk memutuskan hal-hal yang sangat penting bagi para penggemar.
“Kami akan terus memperjuangkan klaim mereka agar didengar oleh sistem Pengadilan Inggris,” tegasnya.
Seorang perwakilan UEFA mengatakan “Kami tidak memiliki komentar apapun untuk diberikan karena masalah ini tunduk pada proses yang sedang berlangsung,”
Tinjauan independen pada tahun 2023 menemukan bahwa Asosiasi harus memikul tanggung jawab utama atas kegagalan organisasi dan keselamatan di Stade de France, Prancis pada 28 Mei 2022.
Laporan yang dibuat UEFA menyatakan “Luar biasa tidak ada seorangpun yang kehilangan nyawanya,”
Pada awalnya, UEFA dan pihak berwenang Prancis menyalahkan para penggemar Liverpool yang tidak memiliki tiket atas kejadian tersebut.
Laporan tersebut juga mengatakan ada kontribusi kesalahan dari badan-badan lain khususnya kepolisian Prancis dan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF).
Namun, temuan tersebut mengatakan bahwa Badan Sepak Bola Eropa (UEFA) lah yang bertanggung jawab penuh.(uta)
Editor : Amin Surachmad