Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Catatan Sepak Bola: Harus Berhitung dengan Pisau Bermata Dua

Ananto Priyatno • Sabtu, 6 Januari 2024 | 16:15 WIB
MOMENTUM KEBANGKITAN: Para pemain PSIM Jogja merayakan gol yang dicetak oleh pemain muda Krisna Sulistia Budianto ke gawang Perserang Serang dalam pertandingan di Stadion Mandala Krida, (19/11).
MOMENTUM KEBANGKITAN: Para pemain PSIM Jogja merayakan gol yang dicetak oleh pemain muda Krisna Sulistia Budianto ke gawang Perserang Serang dalam pertandingan di Stadion Mandala Krida, (19/11).

 

RADAR JOGJA - Untuk kali kesekian PSIM Jogja menatap laga 12 Besar Liga 2. Pada dua musim  lalu, PSIM kurang beruntung. Dari slot tiga tim promosi, ndilalah kok PSIM menjadi satu-satu yang gagal. Padahal, mereka sudah menapak di babak-babak akhir menjelang lolos Liga 1. Apes. Mungkin itu yang bisa menggambarkan nasib salah sau tim pendiri PSSI ini.

            Nah, musim ini PSIM kembali membuka peluang lolos ke Liga 1. Tergabung di Grup A 12 besar, PSIM beradu tajam dengan Persiraja Banda Aceh, PSMS Medan dan Semen Padang. Ini tentu tidak mudah. Tapi bukan hil yang mustahal. Hanya saja harus berhati hati dan butuh perhitungan yang sangat matang.

Format kompetisi penuh alias home and away bisa dibilang pisau bermata dua bagi PSIM. Di satu sisi bisa menguntungkan di lain pihak sangat mungkin jadi boomerang. Ya, dengan format ini, PSIM dapat jatah tiga kali main home. Tentu ini menguntungkan. Laga kandang harus sapu bersih poin. Tidak boleh lepas sekalipun.

Laga away, nah ini yang harus dihitung matang-matang. Tentu masalah jarak jadi kendala besar. Tiga kali harus bolak balik ke Sumatera tentu bukan perkara mudah. Terutama bagi kebugaran pemain. Konsentrasi pemain pasti akan terpecah dengan jauhnya jarak tempuh saat melakoni laga tandang.

Misal melawat ke Medan, tentu tidak bisa ditembuh dengan jangka waktu 1-2 jam penerbangan. Pasti lebih. Ini yang sangat berpengaruh. Perjalanan panjang menggunakan pesawat sangat menguras kondisi fisik pemain. Shin Tae-Young, pelatih kepala Timnas Senior dalam satu wawancara pernah mengungkapkan, jika pemain terlalu lama di pesawat kondisi fisiknya akan sangat terkuras. Tubuh pemain seperti diombang ambingkan. Ini kemudian berpengaruh pada persiapan fisik pemain menjelang laga.

Kuncinya tentu berangkat lebih awal. Sehingga kondisi fisik pemain pascaturun pesawat bisa segera pulih. Untungnya, dua tim lawan PSIM yakni PSMS dan Persiraja harus berpindah kandang lantaran stadion mereka direnovasi. Kabarnya, keduanya bermain tanpa penonton. Nah, ini bisa dimanfaatkan oleh  PSIM. Bahkan pada musim 2016 lalu PSIM pernah mengalahkan Persiraja 2-1 di Aceh.

Kalau bisa ambil poin di dua laga ini akan sangat menguntungkan PSIM. Tinggal nanti memaksimalkan laga kandang saat menghadapi dua tim tersebut. Lawan Semen Padang pun sama, yang penting jangan kehilangan poin di tandang. Apalagi di putaran sebelumnya, PSIM cukup tangguh jika bermain di luar kandang.Tren PSIM selama fase penyisihan saat fase grup juga hanya sekali kalah saat away dengan empat kemenangan.

Tapi itu, saja tak cukup. Sebenarnya, handicap terbesar justru ada di laga kandang PSIM. Betapa tidak, tingginya ekspektasi supporter membuat PSIM justru seperti tertekan saat tampil di kandang. Nah, ini yang harus disadari semua pihak. Tentu kita selaku pendukung PSIM sangat berharap tim ini lolos Liga 1. Tapi, ekspektasi tersebut jangan sampai membuat bumerang bagi tim.

Mental pemain sangat rentan jika tim bermain di bawah tekanan. Terutama tekanan pendukung sendiri. Apalagi, sudah rahasia umum lagi. Mayoritas pemain sepak bola di tanah air masih belum bisa lepas dari tekanan mental yang berlebihan.

Namun, dengan format yang kini dijalani, saya pikir kans PSIM lolos dari 12 besar sangat terbuka lebar. Ayo…dukung PSIM.

Editor : Heru Pratomo
#persiraja banda aceh #sumatera #Ananto Priyatno #semen padang #psms medan #Liga 2 #PSIM Jogja