Segelas Kopi, Seribu Cerita: Kotabaru dan Geliat Anak Muda Jogja

Hening Atik Mahardika • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 18:11 WIB
Suasana malam di Kotabaru Yogyakarta yang selalu ramai, terlihat anak muda menghabiskan waktu dengan nongkrong dan menikmati kopi bersama teman
Suasana malam di Kotabaru Yogyakarta yang selalu ramai, terlihat anak muda menghabiskan waktu dengan nongkrong dan menikmati kopi bersama teman

Di bawah rindangnya pepohonan tua peninggalan era kolonial dan cahaya lampu jalan yang temaram, Kotabaru menghadirkan wajah berbeda ketika malam tiba.

Kawasan yang dikenal sebagai cagar budaya itu perlahan berubah menjadi ruang interaksi sosial yang hidup. Aroma kopi, asap makanan, dan riuh percakapan mahasiswa bercampur menjadi satu. Keramaian bahkan tak hanya muncul saat akhir pekan.

Kotabaru kini dipenuhi beragam pilihan tempat berkumpul. Kedai kopi modern, tempat makan, hingga penjual street coffee dengan konsep lesehan tumbuh di sejumlah sudut kawasan.

Bagi anak muda, Kotabaru bukan sekadar tempat untuk minum kopi. Kawasan ini menjadi ruang untuk melepas penat, mengobrol, mengerjakan tugas kuliah, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana malam Kota Jogja.

Bagi sebagian anak muda, keputusan memilih Kotabaru sebagai tempat berkumpul bukan sekadar mengikuti tren. Suasana kawasan menjadi alasan tersendiri.

Baca Juga: Harga Masker Naik, Permintaan Melonjak Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau

Radit, mahasiswa semester sembilan Program Studi Geologi UPN Veteran Yogyakarta, mengaku lebih nyaman menghabiskan waktu di Kotabaru dibandingkan sejumlah lokasi lain di Jogja.

“Lebih ke suasananya aja sih. Kalau yang di seberang Pakuwon itu sedikit yang jualan dan tempatnya cenderung rame sama mobil yang lewat. Kalau di Kotabaru ini tempatnya lebih jarang dilewatin mobil. Kalau memang lagi rame weekend kayak gini, suasananya enak,” ujar Radit, Jumat (28/8/2026).

Bagi mahasiswa perantauan tersebut, nongkrong lebih berkaitan dengan kebutuhan untuk bertemu dan berinteraksi secara langsung. Aktivitas itu pun tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk membagikan momen di media sosial.

“Kalau saya pribadi, tujuan saya nongkrong di sini memang pure untuk nongkrong, ngobrol sama teman-teman kuliah khususnya. Tujuan saya ke sini bukan untuk nongkrong yang kemudian saya upload di sosmed untuk mendapatkan status sosial atau mencari perhatian dari orang-orang sekitar saya. Saya memang suka suasananya,” tegasnya.

Dari Lincak hingga Meja Kafe

Kebiasaan berkumpul sebenarnya bukan fenomena baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bentuknya saja yang berubah mengikuti zaman.

Dosen Sosiologi Fakultas Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Triana Rahmawati, S.Sos., M.Sos., menjelaskan bahwa budaya berkumpul telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dahulu, ruang tersebut bisa berupa pos ronda, angkringan, warung kopi, maupun lincak di teras rumah.

“Yang berubah itu bukan kebiasaan kumpulnya, yang berubah itu tempatnya jadi barang dagangan. Sekarang ada harganya,” terang Triana saat dihubungi Radar Jogja.

Fenomena tersebut dapat dilihat melalui konsep third place atau ruang ketiga yang diperkenalkan sosiolog Ray Oldenburg. Rumah menjadi ruang pertama, sedangkan tempat kerja atau kampus merupakan ruang kedua. Di antara keduanya, masyarakat membutuhkan ruang informal untuk bertemu, berbincang, dan membangun relasi.

Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Ini Kesaksian Penumpang yang Selamat

Di Jogja, kebutuhan terhadap ruang ketiga semakin terasa, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di kos dengan ruang terbatas.

Kafe dan kedai kopi kemudian berfungsi seperti “ruang tamu alternatif”. Dengan membeli minuman sekitar Rp20 ribu, pengunjung bisa mendapatkan ruang untuk duduk berjam-jam, lengkap dengan fasilitas seperti pendingin udara, Wi-Fi, dan listrik.

“Jadi kalau mau ngobrol sama teman, ya mau enggak mau keluar. Kafe itu jadi ruang tamu yang enggak dipunya di kosnya. Coba bandingkan sama nyalain kipas di kos plus beli kuota. Jadi ada logika ekonominya, bukan cuma gaya-gayaan,” tambah Triana.

Ketika Nongkrong Bertemu Media Sosial

Meski kebutuhan untuk berkumpul tidak berubah, cara anak muda memilih tempat nongkrong kini turut dipengaruhi media sosial.

Dosen Ekonomi AMIKOM Yogyakarta, Atika Fatimah, S.E., M.Ec.DEV., mengatakan Instagram dan TikTok telah menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran usaha kuliner dan kedai kopi.

Tempat yang memiliki tampilan menarik lebih mudah dibagikan melalui media sosial. Pada akhirnya, unggahan tersebut dapat mendorong orang lain untuk datang karena tidak ingin ketinggalan tren atau mengalami Fear of Missing Out (FOMO).

“Ya, jadi dengan itu terus di-update dan tempatnya bagus untuk di foto, kelihatan keren, nah itu akan muncul yang namanya budaya-budaya FOMO. Jadi memang media sosial itu memicu FOMO itu terjadi, selain mereka memberi akses yang luas,” jelas Atika saat dihubungi Radar Jogja.

Triana menilai desain tempat nongkrong saat ini juga semakin diarahkan agar menarik secara visual. Pencahayaan, interior, hingga penyajian makanan menjadi bagian dari pengalaman yang sengaja dibuat mudah diabadikan melalui kamera ponsel.

“Buku panduan pemasarannya sendiri mengakui bahwa produk sengaja direkayasa supaya layak difoto. Jadi kalau kita bilang anak muda terjebak konten, ya adil-adil saja: ada yang memang sengaja memasang jebakannya,” ungkap Triana.

Dari Meja Kopi ke Jejaring Ekonomi

Nongkrong kerap dipandang sebagai aktivitas yang identik dengan menghabiskan waktu dan uang. Namun, ruang informal seperti kafe maupun kawasan kuliner juga dapat menjadi tempat bertemunya berbagai kepentingan.

Baca Juga: Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpusnas Tegaskan Buku Tetap Relevan di Era Digital

Dari obrolan santai, bisa muncul ide kegiatan, jaringan pertemanan, kolaborasi riset, hingga peluang bisnis kreatif.

Geliat tersebut juga memberikan dampak bagi pelaku usaha kecil di sekitar Kotabaru.

Bang Alif, penjual batagor yang telah berjualan selama dua tahun di kawasan tersebut, mengaku ikut merasakan ramainya aktivitas anak muda.

“Besar buat saya mah, alhamdulillah untungnya gede. Kebanyakan anak muda itu meskipun mereka ngopi, mereka juga tetap butuh makanan. Alhamdulillah-nya dagangan saya rame karena itu,” tuturnya.

Dari sisi ekonomi, Atika melihat pertumbuhan kedai kopi dan tempat makan informal sebagai salah satu stimulus bagi UMKM. Kehadiran usaha-usaha tersebut juga membuka peluang pekerjaan, terutama bagi tenaga kerja muda.

Nongkrong dan Identitas Sosial

Tempat nongkrong terkadang juga dikaitkan dengan gaya hidup dan status sosial. Namun, menurut Triana, citra yang ditampilkan seseorang melalui aktivitas nongkrong belum tentu menggambarkan kondisi kelas ekonominya secara utuh.

Pengetahuan mengenai jenis kopi, istilah dalam dunia perkopian, hingga pilihan tempat tertentu dapat menjadi bagian dari modal budaya untuk membentuk citra diri. Namun, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan kemampuan finansial seseorang, terlebih dengan semakin mudahnya akses terhadap pembiayaan instan seperti paylater.

“Yang paling jujur sebagai penanda kelas itu justru: apakah dia bisa nongkrong tanpa mengorbankan jam kerja. Kemampuan buat enggak perlu kerja malam itu penanda yang jauh lebih jujur daripada merek kopinya,” urai Triana.

Ia kemudian membagi aktivitas nongkrong ke dalam tiga orientasi.

Pertama, pemulihan (restorative), yakni menjadikan ruang nongkrong sebagai tempat melepas penat dan menjaga kesehatan mental melalui obrolan santai.

Kedua, produktif, ketika ruang tersebut digunakan untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, belajar, atau membangun jaringan.

Ketiga, penampilan atau gaya hidup, ketika aktivitas nongkrong lebih berorientasi pada pembentukan citra dan status sosial.

Baca Juga: BPS Catat Harga Sejumlah Pangan Naik pada Pekan Kedua September 2026

Dua orientasi pertama, menurut Triana, merupakan kebutuhan yang cukup mendasar bagi anak muda. Karena itu, keberadaan ruang publik yang gratis, aman, nyaman, dan dapat digunakan hingga malam hari menjadi hal yang penting.

Kondisi tersebut juga menjadi catatan bagi kampus dan pemerintah daerah agar tidak hanya mengandalkan ruang komersial sebagai tempat berkumpul masyarakat.

“Selama gedung kampus tutup jam enam sore, kita enggak punya dasar buat menyalahkan mahasiswa yang pergi ke tempat yang masih buka,” pungkas Triana.

Pada akhirnya, riuh malam Kotabaru bukan sekadar cerita tentang kopi, makanan, atau tren tempat nongkrong.

Di antara tegukan kopi dan obrolan yang mengalir dari satu meja ke meja lainnya, kawasan tersebut merekam kebutuhan anak muda untuk bertemu, menjaga relasi, mencari ruang nyaman, sekaligus menjadi bagian dari denyut ekonomi kota.

Kotabaru pun menjadi gambaran bahwa sebuah ruang kota dapat memiliki banyak cerita. Bagi sebagian orang mungkin hanya tempat menikmati segelas kopi.

Baca Juga: BPS Catat Harga Sejumlah Pangan Naik pada Pekan Kedua September 2026

Namun bagi yang lain, tempat itu bisa menjadi ruang untuk menemukan teman, menyelesaikan tugas, membangun jaringan, atau sekadar menarik napas sejenak dari padatnya kehidupan.

Editor : Bahana.
ruang ketiga Anak Muda Jogja Nongkrong di Jogja Ekonomi Kreatif Jogja Kotabaru Jogja