RADAR JOGJA - Sarapan, makan siang, dan makan malam terasa seperti bagian yang hampir tak terpisahkan dari rutinitas sehari-hari.
Sejak kecil, banyak orang terbiasa mengenal tiga waktu makan tersebut seolah-olah merupakan aturan alami yang harus diikuti.
Padahal, manusia tidak selalu memiliki jadwal makan seperti sekarang.
Jauh sebelum jam kerja modern muncul, waktu makan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, ketersediaan bahan pangan, kebiasaan masyarakat, hingga kelas sosial.
Pada masa tertentu, orang bahkan dapat menjalani hari hanya dengan satu atau dua kali makan utama.
Baca Juga: Pengakuan Jujur Ruben Amorim: AC Milan Tidak Pantas Menang Lawan Juventus
Perubahan besar mulai terlihat ketika kehidupan masyarakat Eropa semakin teratur.
Salah satu faktor yang ikut membentuk kebiasaan tersebut adalah berkembangnya pola kerja yang memiliki waktu mulai dan selesai secara lebih jelas.
Revolusi Industri yang berkembang di Inggris sejak sekitar abad ke-18 kemudian membawa perubahan lebih jauh.
Pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja dengan jadwal yang semakin terstruktur.
Baca Juga: Warga Kalurahan Kranggan Kulon Progo Keluhka Aktivitas Pembuangan dan Pembakaran Sampah Ilegal
Kondisi tersebut membuat waktu makan ikut menyesuaikan diri dengan ritme pekerjaan.
Sarapan dilakukan sebelum berangkat bekerja, makan siang mengambil tempat di sela aktivitas, sedangkan makan malam menunggu setelah pekerjaan berakhir.
Tiga waktu tersebut akhirnya menjadi pola yang praktis untuk masyarakat yang menjalani hari berdasarkan jam kerja.
Namun, Revolusi Industri bukan satu-satunya titik awal munculnya tiga waktu makan.
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa pola makan tiga kali sehari sudah ditemukan dalam kebiasaan masyarakat tertentu sebelum industrialisasi.
Angkatan Laut Kerajaan Inggris, misalnya, telah memiliki pembagian waktu makan yang teratur sejak abad ke-16 untuk menyesuaikan kebutuhan dan rutinitas kehidupan di kapal.
Baca Juga: Lagi Bad Mood, Tiba-Tiba Checkout? Kenali Fenomena Vibe Spending
Artinya, kebiasaan makan tiga kali sehari terbentuk secara bertahap.
Perubahan sosial, pekerjaan, budaya, dan kebutuhan praktis ikut mengantarkan masyarakat pada pola yang sekarang dianggap normal.
Menariknya, pola tersebut kini mulai kehilangan kekakuannya.
Kesibukan kerja yang semakin beragam, aktivitas sosial, layanan pesan-antar makanan, hingga perubahan gaya hidup membuat orang tidak selalu makan pada waktu yang sama.
Sarapan dapat bergeser menjadi brunch, makan malam bisa berlangsung lebih larut, sementara makanan ringan hadir di antara waktu makan utama.
Baca Juga: Sering Minum Air Lemon untuk ‘Detox’? Hati-Hati, Gigi Bisa Jadi Korban
Meski begitu, perubahan jadwal makan tidak otomatis berarti seseorang harus lebih sering makan.
Kajian ilmiah hingga kini belum memberikan kesimpulan kuat bahwa makan lebih sering selalu lebih baik bagi kesehatan.
Bahkan, penelitian mengenai frekuensi makan menunjukkan bukti yang masih beragam, sehingga jumlah waktu makan bukan satu-satunya ukuran kualitas pola makan.
Harvard Health juga menekankan bahwa kesehatan pola makan lebih banyak ditentukan oleh apa yang dikonsumsi dan jumlah keseluruhan asupan, bukan sekadar berapa kali seseorang makan dalam sehari.
Baca Juga: Gempa Flores, Karhutla Kalimantan dan Erupsi Anak Krakatau, Indonesia Masih Waspada
Dengan demikian, tiga kali makan sehari lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan yang dibentuk oleh perjalanan sosial manusia, bukan hukum biologis yang berlaku untuk semua orang.
Dulu, waktu makan harus menyesuaikan matahari, pekerjaan, dan ketersediaan makanan.
Kini, manusia memiliki lebih banyak kebebasan untuk menentukan kapan mereka makan.
Yang berubah bukan kebutuhan manusia untuk memperoleh makanan, melainkan cara manusia mengatur waktunya.
Editor : Meitika Candra Lantiva