BELAKANGAN kimpul menjadi perbincangan hangat di media sosial sebagai alternatif pangan. Di balik tren itu, kimpul memiliki sejumlah keunggulan gizi. Mulai dari sumber energi, serat larut air, hingga kandungan inulin yang berpotensi melancarkan pencernaan.
Kendati begitu, umbi-umbian ini tidak bisa dikonsumsi sembarangan. Sebab kimpul mengandung kalsium oksalat sehingga perlu pengolahan yang tepat untuk mengurangi senyawa penyebab rasa gatal sekaligus menjaga keamanan konsumsi.
Dosen Prodi Gizi, Fakultas Pertanian, Universitas Tidar (Untidar) Rizka Qurrota A'yun menyebut, kimpul termasuk golongan umbi-umbian. Sehingga bisa menjadi makanan sumber karbohidrat sama seperti nasi, jagung, dan lainnya.
Sebagai sumber karbohidrat, kimpul dapat memberikan energi bagi tubuh. Terlebih, kimpul memiliki karakteristik yang bereda dibandingkan sumber karbohidrat tertentu, terutama karena kandungan pati resisten dan serat larut air.
Baca Juga: Resah Banyak Anak Muda Tak Kenal Umbi-umbian, Suratini Berhasil "Angkat" lewat Konten Uniknya
Kandungan ini membuat pelepasan energi dari kimpul berlangsung lebih lambat. Alhasil, mengonsumsi kimpul tidak menyebabkan kenaikan gula darah secara cepat seperti makanan dengan indeks glikemik tinggi. "Artinya dia tidak melonjakkan gula darah dengan cepat," ujarnya, Jumat (28/8).
Karakteristik itu, lanjut Rizka, membuat kimpul berpotensi menjadi alternatif sumber karbohidrat. Terutama bagi orang yang perlu mengendalikan lonjakan gula darah dan dapat menjadi pilihan bagi orang yang sedang mengatur pola makan.
Meski begitu, Rizka menekankan, kimpul bukan berarti lebih unggul secara mutlak dibandingkan seluruh jenis umbi. Sejumlah umbi lain juga memiliki kandungan serat dan inulin, sehingga manfaatnya dapat saling berdekatan. "Porang juga ada. Unggulnya tidak terlalu jauh dengan umbi-umbian lainnya," sebutnya.
Dia menambahkan, satu keunggulan kimpul yang menjadi perhatian adalah kandungan serat larut airnya. Menurut dia, serat larut air memiliki fungsi berbeda dibandingkan serat kasar.
Serat larut, dapat membantu memperlambat proses penyerapan sehingga kenaikan gula darah dan profil lipid dalam tubuh tidak berlangsung terlalu cepat. Kandungan itu juga berkaitan dengan rasa kenyang.
Dia menjelaskan, mengonsumsi makanan dengan kandungan serat tinggi dapat membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Pada makanan dengan indeks glikemik rendah, kenaikan gula darah berlangsung lebih perlahan dan bertahan lebih lama. "Kalau dibandingkan dengan nasi, kita akan lebih kenyang lebih lama kalau konsumsi kimpul," sebutnya.
Selain serat, kimpul juga mengandung inulin yang berfungsi sebagai prebiotik. Senyawa tersebut dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di saluran pencernaan, sehingga berpotensi mendukung kesehatan mikrobiota usus.
Kimpul juga memiliki kandungan polifenol yang bersifat antioksidan. Dia menyebut antioksidan dapat berperan membantu menangkal radikal bebas dan secara umum dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Rizka mengatakan, kimpul pada dasarnya dapat dikonsumsi berbagai kelompok masyarakat sebagai alternatif sumber karbohidrat. Kimpul dapat dikonsumsi sederhana dengan cara direbus atau dikukus.
Umbi itu juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan, termasuk tepung. Tepung kimpul memiliki keunggulan karena berasal dari umbi dan tidak mengandung gluten seperti tepung terigu. "Kalau tepung terigu mengandung gluten, tepung dari umbi-umbian ini bebas gluten," kata Rizka.
Penggunaannya juga dapat diperluas, termasuk sebagai bahan makanan pendamping ASI (MPASI). Dengan catatan, tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan bentuk pengolahan yang sesuai usia.
Di balik manfaat itu, Rizka mengigatkan, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam mengolah kimpul, yakni kandungan kalsium oksalat. Rizka menjelaskan, kalsium oksalat dapat menimbulkan sensasi gatal ketika kimpul dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat.
Karena itu, kimpul perlu dicuci dan dapat direndam menggunakan air garam sebelum dimasak. Proses pemanasan, terutama perebusan, perlu dilakukan untuk membantu mengurangi kandungan kalsium oksalat. "Kalsium oksalat itu rentan terhadap panas, sehingga bisa larut kalau melewati pemanasan. Bagusnya direbus," terangnya.
Baca Juga: Meski Viral, Bahan Mentah Kimpul di Pasar Tradisional di Bantul Tetap Tidak Ramai Pembeli
Setelah melalui proses tersebut, kimpul dapat dikeringkan apabila hendak dijadikan tepung. Kimpul juga dapat dipotong dan diolah menjadi keripik maupun berbagai makanan lain. Pengolahan dengan panas tetap perlu dilakukan secara proporsional.
Hanya saja, kata Rizka, pemanasan berlebihan atau proses memasak berulang dapat menurunkan sebagian kandungan zat gizi. Terutama beberapa mikronutrien yang sensitif terhadap panas. "Kalau digoreng jelas mungkin ada beberapa kandungan gizi mikronya yang hilang karena pemanasan berlebihan," katanya.
Rizka juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kimpul sebagai satu-satunya sumber pangan dan mengonsumsinya secara berlebihan setiap hari. Sebab jika proses pengolahan tidak dilakukan secara tepat dan konsumsi dilakukan terus-menerus, paparan kalsium oksalat dapat menjadi persoalan bagi tubuh.
"Kita juga dianjurkan makan yang beragam. Jadi paling tidak gonta-ganti. Kimpul bisa dijadikan alternatif pengganti nasi atau kalau bosan dengan singkong dan ubi," tegasnya.
Untuk porsi, kata dia, tidak ada satu ukuran yang berlaku bagi seluruh orang. Lantaran kebutuhan konsumsi tetap bergantung pada kebutuhan energi dan gizi masing-masing individu. (aya/laz)
Sumber : Radar Jogja