RADAR JOGJA - Dari sekian ciri lowongan kerja palsu, ternyata hanya beberapa saja yang benar-benar sering dilaporkan korban loker bodong di Indonesia.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sendiri, lewat Sekretaris Jenderal Anwar Sanusi, secara resmi menegaskan satu ciri paling khas yang jadi modus favorit penipu.
Yaitu adanya permintaan biaya administrasi, pelatihan, atau akomodasi sebagai syarat lanjut ke tahap seleksi.
Berikut 7 ciri loker bodong paling menonjol yang wajib diingat, dari yang paling sering ditemui sampai yang paling gampang disepelekan.
Baca Juga: Liverpool Tegaskan Tak Akan Rekrut Gelandang Bertahan, Andoni Iraola Fokus Perbaiki Sistem Tim
1. Diminta bayar apa pun, sekecil apa pun alasannya
Alasan yang dipakai bisa macam-macam.
Mulai dari biaya administrasi, pelatihan, seragam, sampai asuransi alat kerja.
Perusahaan yang benar-benar merekrutmu akan membayarmu, bukan sebaliknya.
2. Minta data pribadi saat kontak pertama kali
Nomor rekening, KTP, NPWP, atau swafoto dengan KTP, seharusnya hanya diminta jika sudah di tahap akhir dan sudah tanda tangan offer letter.
Jadi kalau diminta hal-hal tersebut di percakapan pertama dengan dalih "kelengkapan data" harus diwaspadai.
Baca Juga: Kemhan Berikan Pernyataan Terkait Penggunaan Hijab Bagi Mahasiswa UNHAN RI
3. Modus kerja tanpa modal atau tugas ringan berkomisi
Tren yang sedang marak di Indonesia belakangan ini.
Tawaran kerja santai lewat WhatsApp atau media sosial, cukup like-subscribe atau mengerjakan tugas ringan, dijanjikan komisi harian.
Ujung-ujungnya, kamu diminta deposit dulu untuk "membuka level" pekerjaan berikutnya, dan setelah itu pelakunya menghilang.
4. Gaji jauh di atas rata-rata pasar, tapi syaratnya terlampau mudah
Tidak butuh pengalaman, syarat hanya lulusan SMA atau sarjana jurusan apa saja, tapi gajinya fantastis.
Sebelum tergiur, cek dulu kisaran gaji wajar untuk posisi serupa di kota masing-masing.
Baca Juga: Bank Mandiri Blokir Rekening Koordinator AMPB, Netizen Ramai Serukan Tagar #BoikotMandiri
5. Tidak pernah melamar, tapi tiba-tiba diterima
Harus waspada kalau ada rekruter menghubungimu duluan, bilang CV-mu ditemukan online, lalu langsung menawarkan posisi tanpa proses wawancara sama sekali.
6. Informasi perusahaan susah ditelusuri
Coba cek nama perusahaannya di Google atau LinkedIn.
Kalau website resminya tidak ada, medsos resminya tidak jelas, atau nama rekruternya tidak bisa ditemukan di mana pun, itu berarti penipuan.
7. Alamat website dan email mencurigakan
Situs resmi biasanya pakai "https://", bukan "http://" tanpa "s", dengan URL pendek dan jelas.
Baca Juga: Bayang-Bayang Sanksi AS ke Iran Jadi Pemicu Penurunan Harga Minyak Dunia
Begitu juga email resmi HRD, biasanya pakai domain perusahaan, bukan alamat email pribadi seperti Gmail atau Yahoo biasa.
Riset dulu perusahaannya sebelum melamar, verifikasi lowongan langsung di website resmi mereka.
Jangan pernah memberi data rekening atau data pribadi sebelum kontrak kerja resmi, dan percaya insting.
Kalau dari awal sudah terasa janggal meski terlihat meyakinkan, lebih baik cari peluang lain saja.