Keterampilan Pramuka Masih Relevan di Era Digital; Perlu Disinergikan dengan Perkembangan Tekonologi

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 21:10 WIB
Sekretaris Kwarda DIJ Sri Budoyo. Fahmi Fahriza/Radar  Jogja
Sekretaris Kwarda DIJ Sri Budoyo. Fahmi Fahriza/Radar  Jogja

 

JOGJA - Memasuki era digital, berbagai keterampilan yang diajarkan dalam gerakan Pramuka dinilai masih memiliki relevansi dalam kehidupan sehari-hari. Kwartir Daerah (Kwarda) DIJ menilai keterampilan seperti tali-temali, morse, semafor hingga pembuatan tandu tetap penting karena melatih ketangkasan sekaligus kemandirian peserta didik.

Sekretaris Kwarda DIJ Sri Budoyo mengatakan, keterampilan tradisional dalam Pramuka tidak semestinya ditinggalkan meski generasi muda kini tumbuh dengan perkembangan teknologi yang jauh berbeda.

Menurutnya, tantangannya justru bagaimana keterampilan tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan generasi saat ini.

Baca Juga: Pramuka Identik dengan Tali-temali, Morse, Semafor, Tetap Berguna meski Terlihat Sepele

"Keterampilan tetap harus diberikan agar adik-adik kita itu punya keterampilan yang mumpuni, tetapi dia juga punya pengembangan jati dirinya," kata Sri Budoyo, Jumat (14/8).

Sri menjelaskan, keterampilan seperti semafor, morse dan tali-temali pada dasarnya tidak hanya bertujuan membuat anggota Pramuka mampu melakukan teknik tertentu. Latihan itu juga bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan tubuh dan keterampilan praktis yang dapat digunakan dalam berbagai situasi.

"Traditional scouting memang menyiapkan adik-adik itu terampil. Media yang biasa digunakan ada seperti semafor, morse, tali-temali, itu sebenarnya mengolah anggota tubuh supaya dia bisa menjadi terampil dan bisa dimanfaatkan secara optimal," ujarnya.

Baca Juga: Usai Bela Timnas Indonesia di AFF, Cahya Supriadi Belum Gabung PSIM Jogja

Namun Sri mengakui perkembangan zaman membuat metode pendidikan Pramuka juga perlu beradaptasi. Menurutnya, keterampilan tradisional tersebut perlu disinergikan dengan teknologi dan kondisi psikologis generasi muda saat ini.

"Bagaimana keterampilan-keterampilan tradisional yang ada dalam Gerakan Pramuka itu juga disinergikan dengan perkembangan teknologi yang sekarang ada dan kondisi adik-adik kita," katanya.

Ia mencontohkan, pendidikan kepramukaan tidak bisa diberikan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh kelompok usia. Gerakan Pramuka memiliki empat golongan, yakni Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega, yang masing-masing memiliki perkembangan fisik maupun psikologis berbeda.

Karena itu, Sri menilai peran pembina menjadi penting untuk memastikan keterampilan yang diberikan tetap relevan dan tidak berhenti sebagai hafalan atau kemampuan teknis semata.

"Tidak mungkin kalau melayani adik-adik yang Penegak yang di tingkat usia SMA itu, lalu keterampilannya akan kembali seperti ketika di Penggalang. Masanya berbeda, perkembangan kejiwaannya berbeda," jelasnya.

Lebih jauh, ia mengatakan tujuan pendidikan Pramuka tidak hanya membentuk peserta didik yang terampil secara praktis. Ada tiga aspek yang harus berjalan bersamaan, yakni pembentukan karakter dan iman-takwa, keterampilan serta kecerdasan, dan rasa kebangsaan.

Karena itu, keterampilan seperti tali-temali dan Morse tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari proses pembentukan kemandirian peserta didik.

"Pembentukan karakter secara moral itu jelas, itu harus dilakukan. Yang kedua, membuat mereka mampu membangun kemandirian itu penting," ujarnya.

Baca Juga: Bisa Main di Kanan, Kiri hingga Tengah, Marvin Loria Siap Jalankan Instruksi Van Gastel

Sri menambahkan, semangat kemandirian tersebut juga perlu diterjemahkan dalam konteks kehidupan generasi muda saat ini, termasuk melalui pengembangan kewirausahaan dan keterampilan sesuai minat serta bakat.

Di momentum Hari Pramuka ke-65 tahun yang diperingati pada 14 Agustus 2026, Kwarda DIJ berharap Gerakan Pramuka tetap mampu menjadi ruang pendidikan yang relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Di DIJ, upaya tersebut juga dikaitkan dengan upaya menjaga nilai kebudayaan dan keistimewaan Jogjakarta. Kwarda DIJ mengembangkan Kecakapan Pramuka Istimewa untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap identitas dan budaya lokal.

Baca Juga: Peringati HUT RI, 68 Karya Fotografi Bertajuk Kemerdekaan Dipamerkan di Titik Nol Kilometer

"Seorang Pramuka yang kita kembali olah supaya dia menyadari jati dirinya sebagai orang Jogja dengan segala budaya yang ada, semua aktivitas yang dinaungi kebudayaan orang Jawa ini,"  kata Sri.

Menurutnya, tantangan Pramuka ke depan bukan memilih antara keterampilan tradisional atau teknologi, melainkan menemukan titik temu di antara keduanya agar pendidikan kepramukaan tetap mampu menjawab kebutuhan generasi muda.

"Jadi keterampilan tetap harus diberikan, tetapi pendekatannya harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan perkembangan adik-adik kita,” ungkapnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Kwarda DIJ Sri Budoyo lifestayle Pramuka gerakan pramuka