Peradaban manusia selama beabad-abad memegang teguh sebuah adagium "seeing is believing"—melihat adalah mempercayai.
Rekaman foto dan video puluhan tahun menjadi bukti paling sahih dalam persidangan, jurnalistik, hingga dokumentasi sejarah.
Namun, lompatan teknologi kecerdasan buatan melalui teknik generative adversarial networks (GANs) telah meruntuhkan fondasi tersebut.
Kehadiran deepfake—rekayasa visual dan audio berbasis AI—membuat pemalsuan rupa, gerak tubuh, dan artikulasi suara manusia menjadi begitu halus hingga sulit dibedakan oleh mata awam.
Baca Juga: Mengapa Kunci Keberhasilan Transportasi Publik Ada di Trotoar dan Angkutan Feeder?
Awalnya, teknologi deepfake populer di internet sebagai konten hiburan, seperti mengganti wajah aktor film atau membuat satire politik. Namun, batas antara kelakar dan kejahatan kini kian kabur. Deepfake telah bertransformasi menjadi instrumen kejahatan siber dan manipulasi informasi dalam skala masif, contohnya:
1. Penipuan Rekayasa Sosial (Social Engineering)
Modus kejahatan kini memanfaatkan video panggilan rekayasa AI. Penipu dapat menirukan rupa dan suara kerabat dekat atau atasan perusahaan untuk meminta transfer dana darurat.
2. Disinformasi Politik dan Destabilisasi Sosial
Menjelang pemilu, video pemalsuan pernyataan tokoh publik dapat disebar dalam hitungan detik untuk memicu konflik horisontal, menjatuhkan elektabilitas kandidat, atau merusak stabilitas pasar modal.
3. Pencemaran Nama Baik dan Kejahatan Seksual Digital
Penggunaan rupa seseorang tanpa izin untuk pembuatan konten sensitif atau pornografi rekayasa menjadi ancaman nyata bagi perlindungan hak pribadi.
Ada tiga tingkatan verifikasi yang perlu diterapkan, yaitu:
Tingkat 1
Deteksi Anomali Visual dan Audio Meskipun AI makin canggih, rekayasa visual sering meninggalkan cacat mikro.
Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Perkuat Layanan Desa dan Ketahanan Pangan di Papua
Perhatikan konsistensi kedipan mata karena video AI sering kali memiliki pola kedipan yang janggal, pencahayaan pada pupil, bentuk tepi telinga dan batas rambut, serta keselarasan antara artikulasi bibir dengan nada suara.
Tingkat 2
Verifikasi Dua Arah. Jika Anda menerima video atau rekaman suara yang meminta tindakan finansial atau menyebarkan klaim ekstrem, jangan pernah bertindak berdasarkan satu saluran.
Hubungi kembali orang tersebut melalui sambungan telepon biasa atau saluran komunikasi tepercaya lainnya untuk mengonfirmasi keaslian pesan.
Tingkat 3
Evaluasi Konteks dan Literasi Informasi Gunakan pemikir kritis dengan menanyakan. Siapa yang pertama kali mengunggah video ini? Apa tujuan penyebarannya? Apakah media arus utama yang memiliki standar verifikasi ketat telah mengonfirmasi berita tersebut?
Baca Juga: Jorge Messi, Ayah dari Bintang Lionel Messi, Meninggal Dunia pada Usia 68 tahun
Era rekayasa digital menuntut kita untuk bergeser dari prinsip "melihat untuk mempercayai" menjadi "memverifikasi sebelum mempercayai".
Budaya memvalidasi data harus menjadi reflek utama sebelum kita merespons atau membagikan suatu informasi.
Editor : Bahana.