Mengapa Kunci Keberhasilan Transportasi Publik Ada di Trotoar dan Angkutan Feeder?

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 12:54 WIB
PENGAJUAN: Ilustrasi angkutan umum Trans Jogja di Terminal Palbapang. Dua rute angkutan perintis tengah diajukan ke Kementerian Perhubungan oleh Dishub Bantul - Cintia Yuliani/Radar Jogja
PENGAJUAN: Ilustrasi angkutan umum Trans Jogja di Terminal Palbapang. Dua rute angkutan perintis tengah diajukan ke Kementerian Perhubungan oleh Dishub Bantul - Cintia Yuliani/Radar Jogja

Pemerintah daerah sering kali mengukur keberhasilan modernisasi transportasi publik dari kemewahan infrastruktur utamanya seperti pengadaan armada bus listrik terbaru, pembangunan jalur kereta elevated, atau pengoperasian stasiun MRT bergaya futuristik.

Sayangnya, tidak sedikit proyek berbiaya triliunan rupiah tersebut berakhir sepi penumpang. Masalah utamanya kerap berakar pada pengabaian dua elemen paling mendasar dalam rantai perjalanan warga, trotoar dan angkutan pengumpan atau feeder.

Dalam ilmu perencanaan wilayah dan kota, keputusan seseorang untuk menggunakan transportasi umum sangat ditentukan oleh pengalaman pada first-mile (jarak dari titik asal/rumah menuju perhentian pertama) dan last-mile (jarak dari perhentian akhir menuju lokasi tujuan).

Kereta tercepat atau bus terdingin sekalipun tidak akan dilirik jika calon penumpang harus mempertaruhkan nyawa berjalan di bahu jalan yang sempit atau merogoh kocek mahal hanya untuk mencapai stasiun.

Baca Juga: Apakah Hukuman Mati bagi Koruptor Menjadikan Efek Jera Nyata atau Sekadar Wacana Populistis?

Sebuah kota yang ramah transportasi publik wajib menempatkan pejalan kaki di puncak hierarki perencanaan mobilitas.

Ada tiga pilar utama yang harus dibangun secara berkesinambungan:

  1.   Infrastruktur Pedestrian yang Aman dan Inklusif

Trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan jaringan utama mobilitas. Trotoar ideal wajib memenuhi standar bebas hambatan, memiliki peneduh dari cuaca ekstrem, dilengkapi fasilitas ramah disabilitas, serta steril dari sterilisasi kendaraan bermotor dan pedagang liar yang menutup akses.

  2.   Keterintegrasian Angkutan Feeder di Permukiman Padat

Mayoritas warga perkotaan tinggal di dalam kawasan permukiman atau gang yang tidak dapat dilalui bus berukuran besar. Kehadiran feeder mikro seperti angkot modern ber-AC atau mikrobus yang melayani rute berjadwal tetap menuju stasiun terdekat adalah syarat mutlak untuk memotong ketergantungan warga pada sepeda motor pribadi.

  3.   Integrasi Tarif dan Pembayaran

Sistem transportasi publik yang efektif menggunakan kartu pembayaran atau sistem tiket tunggal. Penumpang tidak boleh dibebani biaya ganda yang mahal saat berpindah dari angkutan feeder ke moda utama.

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Raih Community Advisor Kategori Sport Class Di AHSRIC

Keberhasilan sistem transportasi publik suatu kota tidak diukur dari seberapa banyak warga miskin yang mampu membeli mobil, melainkan seberapa banyak warga berkecukupan yang secara sukarela memilih berjalan kaki dan naik transportasi umum.

Editor : Bahana.
angkutan publik angkutan feeder angkutan umum transportasi publik