Hujan Panas atau Sunshower Bersama Mitos-Mitosnya, Rubah Menikah di Jepang sampai "Udan Kethek" di Jawa

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 09:36 WIB
Ilustrasi hujan panas atau sunshower. (Unsplash)
Ilustrasi hujan panas atau sunshower. (Unsplash)

 


RADAR JOGJA - Pernah mengalami hujan turun tapi matahari masih bersinar terang?

Fenomena ini disebut sunshower atau dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai hujan panas.


Secara ilmiah, penjelasannya sebenarnya sederhana.

Fenomena ini terjadi ketika ada celah di antara awan hujan yang memungkinkan sinar matahari tetap menembus ke permukaan bumi. 

Kolom udara hangat naik dan membentuk awan hujan lokal di satu titik, sementara di sekitarnya udara justru turun, menciptakan area cerah tanpa awan.

Baca Juga: Genjot Industri Hijau, Pemprov Jateng Siapkan Insentif Pajak Bagi Perusahaan Ramah Lingkungan


Hujan panas paling sering terjadi di pagi atau sore hari, saat posisi matahari cukup rendah dan sudut datang cahayanya miring dari samping.

Kondisi yang juga memungkinkan kemunculan pelangi bersamanya.


Di Jepang, fenomena ini disebut kitsune no yomeiri atau “pernikahan rubah”.

Dipercaya sebagai rombongan pengantin rubah gaib yang sengaja menurunkan hujan untuk menyembunyikan iring-iringan mereka dari pandangan manusia di saat matahari masih menyinari perayaan itu.


Di Korea, ceritanya sedikit berbeda tapi temanya serupa.

Disebut yeoubi atau "hujan rubah", berasal dari kisah awan yang menangis sedih karena rubah yang dicintainya justru menikah dengan harimau.

 

Baca Juga: Miris, Ternyata Baru 34 Persen Pekerja di Sleman Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan  


Jauh di India Utara, fenomena yang sama dikenal sebagai siyaar ke biyaah, "pernikahan serigala hutan".

Anak-anak di sana bahkan punya nyanyian tradisional khusus untuk merayakannya.

Di Afrika Selatan, komunitas Zulu menyebutnya sebagai "pernikahan monyet".

Sementara di banyak negara Barat, ceritanya berubah arah jadi lebih kelam.

Setan yang sedang memukuli istrinya, dengan hujan sebagai representasi air mata sang istri.

Yang paling mengejutkan, ternyata Jawa juga punya versinya sendiri dari budaya-budaya di atas.


Di beberapa wilayah Jawa, hujan panas disebut udan kethek, yang secara harfiah berarti "hujan monyet".

Baca Juga: Trotoar di Kota Jogja Belum Ramah Difabel, Tertutup Lapak PKL hingga Licin

Konsep yang hampir identik dengan mitos "pernikahan monyet" ala Zulu di Afrika Selatan.


Selain udan kethek, masyarakat Jawa juga mengenal mitos lain seputar hujan panas.

Sebagian meyakininya sebagai pertanda pernikahan makhluk halus atau jin, sebagian lain mengaitkannya dengan kematian mendadak seseorang penting, dan ada pula yang memandangnya sebagai berkah kesuburan bagi tanah yang kering.


Fenomena semacam ini menunjukkan sesuatu yang menarik soal cara berpikir manusia. Yaitu ketika dihadapkan pada sesuatu yang tampak berlawanan secara alami, insting manusia cenderung mencari penjelasan naratif.
  

Editor : Meitika Candra Lantiva
istilah udan kethek hujan panas rubah menikah di jepang mitos Hujan