Bukan ke Malioboro atau Tugu, anak muda Kota Jogja menawarkan wisata baru. Bukan walking tour pada umumnya. Mengambil tajuk Jalan Liar dan Rasan-rasan, gerakan jalan kaki menyusuri sudut-sudut alternatif Jogja ini lahir dari ruang-ruang spontanitas tanpa sekat.
Berbeda dengan pemandu wisata (walking tour) pada umumnya, rute yang dipilih oleh komunitas Jalan Liar ini terbilang unik dan tidak tertebak. Jalur-jalur alternatif seperti gang-gang sempit kampung, pinggiran sungai, hingga menelusup ke balik gemerlapnya kawasan Malioboro dan Sarkem menjadi juga menjadi pilihan. Jarak tempuhnya pun rata-rata di setiap sesinya bisa mencapai lima kilometer.
"Kalau kami berjalan itu kan sukanya ke kampung yang ada situs-situs yang bisa diceritakan. Karena memang background-ku kan memang pembelajar dan penggemar kebudayaan," kata inisiator Jalan Liar dan Rasan-rasan Paksi Raras Alit usai berjalan-jalan, Rabu (8/7).
Baca Juga: UKDW Bangun Ekosistem Pengembangan Jamu Berbasis Sains, Resmikan Pojok Jamu
Menariknya, sepanjang perjalanan, aktivitas ini dibumbui dengan obrolan atau rasan-rasan sejarah tentang Jogjakarta yang dikemas secara pop, ringan, bahkan berbasis rumor-rumor lokal yang jarang tertulis di buku sejarah formal.
Saat ini, lanjut Paksi, Jalan Liar sudah berjalan dalam dua kloter. Kloter pertama mengisi waktu di akhir pekan pada pagi hari, sementara kloter kedua mengakomodasi rekan-rekan yang kesulitan bangun pagi untuk berjalan bersama setiap hari Rabu sore.
Antusiasme yang tinggi membuat peserta Jalan Liar kini semakin beragam. Mulai dari musisi, tukang tatto, mekanik bengkel, rapper, MC, hingga komedian turut melebur menyusuri jalanan kota.
Baca Juga: Susul Cahya Supriadi, PSIM Jogja Pertahankan 12 Pemain Lama untuk Kompetisi Musim Depan
Kendati demikian, Paksi mengaku sengaja membatasi jumlah peserta di setiap sesinya. Biasanya para peserta yang berjalan setiap sore itu hanya berkisar 15 orang. Itu agar pergerakan tetap kondusif dan esensi kebersamaan tidak hilang.
Kegiatan ini berawal dari kebiasaan sederhana berjalan kaki bersama sang istri setelah mengantar anak sekolah atau saat akhir pekan. Aktivitas ini menggelinding menjadi sebuah gerakan kolektif yang diikuti oleh lingkaran pertemanannya dari berbagai lintas profesi.
Bagi Paksi, berjalan kaki menyusuri ruang bertumbuh masa kecil menjadi semacam terapi psikologis untuk memantik rasa bahagia dan merajut kembali memori kolektif masa lalu.
"Ada proses ingin meng-collect kembali memori mereka di masa lalu tentang kotanya, tentang ruang hidupnya. Memaknai ulang tempat bertumbuh itu kan membuat hidup konon lebih bahagia," lontarnya.
Saat ditanya mengenai arah dan masa depan gerakan ini, Paksi menegaskan, dirinya sama sekali tidak memiliki target muluk-muluk. Ia berkomitmen menjaga gerakan ini tetap organik, jauh dari tendensi komersial maupun beban korporasi.
Mengingat, konsep Jalan Liar ini murni mengadopsi budaya masa kecil anak-anak Jogja jaman dulu, yaitu ampir-ampiran (saling menghampiri rumah teman) lalu pergi bermain bersama tanpa agenda yang kaku.
"Iki koyo nek zaman cilik mbiyen ampir-ampiran njuk lungo bareng, nggolek pelem. Nah ini kayak gitu, tapi skupnya lebih besar, mengelilingi kota. Ternyata kumpul tanpa tujuan itu enak," tegasnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo