JOGJA - Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, Klompencapir bukan sekadar program televisi.
Program yang merupakan singkatan dari Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa itu menjadi salah satu media komunikasi pemerintah yang paling dikenal pada masa Orde Baru.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY Hari Edi Tri Wahyu Nugroho mengaku, masih melekat kuat di ingatannya, bahwa program tersebut hadir di tengah keterbatasan kanal informasi pada masa itu.
"Kalau saya masih ingat, Klompencapir itu kan zaman Pak Harto. Saat itu menurut saya sangat ikonik. Karena tiap hari medianya ya TVRI, radio. Itu sangat ikonik sebagai suatu program," ujar Wahyu pada Radar Jogja, Sabtu (20/6).
Menurutnya, Klompencapir menjadi bagian dari strategi komunikasi pemerintah pusat kala itu untuk menyampaikan berbagai program pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan.
Yang paling ia ingat adalah tayangan dialog antara Presiden Soeharto dengan para petani dan nelayan, yang menjadi sarana penyampaian berbagai kebijakan pemerintah secara langsung kepada masyarakat.
"Ketika Pak Harto ke desa ngumpul dengan para petani dan nelayan, dan ada dialog. Itu bagian dari salah satu acara yang sangat dikenal saat itu," katanya.
Baca Juga: Penas XVII 2026, Wapres Gibran: Indonesia Kian Mandiri Pangan Berkat Petani dan Nelayan
Ia menjelaskan, popularitas Klompencapir tidak bisa dilepaskan dari kondisi media pada masa tersebut.
Saat itu, masyarakat hanya memiliki sedikit pilihan sumber informasi, terutama TVRI dan RRI sebagai media utama.
"Variasi atau jenis kanal berita hanya seperti itu. Sehingga saat itu ya masif masuk ke masyarakat. Seingat saya itu bagian dari strategi komunikasi Presiden waktu itu," ujarnya.
Ia menilai, salah satu tujuan utama Klompencapir adalah mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah saat itu.
"Khususnya swasembada beras. Sehingga itu yang menjadi sasarannya memang petani sama nelayan," ulasnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Warung Soto Enak di Yogyakarta, Kuliner yang Wajib Coba!
Menurutnya, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada masa tersebut membuat Klompencapir semakin melekat dalam ingatan publik, bahkan hingga saat ini.
Wahyu meyakini sebagian besar masyarakat yang hidup pada era tersebut pasti mengenal Klompencapir, karena program itu disiarkan secara rutin dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Kalau saya, jelas ingat. Saya cukup yakin generasi yang hidup pada masa itu pasti tahu. Karena memang sangat ikonik," ujarnya.
Selain Klompencapir, ia juga mengenang sejumlah program televisi pembangunan lainnya yang populer di wilayah DIY dan Jawa Tengah, salah satunya program Mbangun Desa yang ditayangkan TVRI.
Baca Juga: 8 Wisata Susur Sungai di Yogyakarta yang Cocok untuk Liburan
Program tersebut, kata dia, mengangkat berbagai persoalan masyarakat desa yang dikemas secara ringan dan komedi dengan melibatkan sejumlah seniman Teater Gandrik.
"Itu mengemas nuansa-nuansa di pedesaan dengan apik, dengan komedi khas Teater Gandrik," katanya.
Meski lahir pada era media konvensional, Hari menilai semangat Klompencapir masih relevan diterapkan hingga saat ini.
Sebagai kepala Diskominfo DIY, ia menilai bahwa pemerintah tetap membutuhkan ruang komunikasi yang mampu menyampaikan kebijakan secara jelas sekaligus menampung aspirasi masyarakat.
"Menurut saya masih relevan. Pemerintah tetap perlu punya narasi yang sama supaya antarinstansi tidak berbeda-beda," ujarnya.
Baca Juga: Lima Lokasi Wisata Pendakian Yogyakarta yang Cocok untuk Pemula
Ia bahkan menyebut Kementerian Pertanian saat ini telah mengembangkan konsep serupa melalui Klompencapir Digital yang memanfaatkan teknologi dan media digital untuk menjangkau kelompok tani.
Selain itu, ia melihat semangat yang sama juga hadir dalam Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) yang selama ini menjadi mitra pemerintah dalam menyebarluaskan informasi publik.
Menurut Hari, model komunikasi saat ini tidak lagi hanya bersifat satu arah maupun dua arah, melainkan telah berkembang menjadi komunikasi multidirectional yang melibatkan masyarakat secara aktif.
"KIM itu tidak hanya pemerintah ke masyarakat dan masyarakat ke pemerintah, tetapi juga masyarakat ke masyarakat. Informasi menjadi nilai tambah di masyarakat," paparnya.
Baginya, meski kanal komunikasi kini jauh lebih beragam dibanding era orde baru dulu, esensi Klompencapir tetap sama, yakni menjadi wadah berbagi informasi, dan menyampaikan kebijakan publik,
"Sekaligus menjembatani kebutuhan masyarakat dengan pemerintah," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva