Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tren Khiban Kian Luwes, Pengamat Mode UNY Sebut Tak Lagi Identik dengan Gamis

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:00 WIB
Pengamat Mode UNY Laila Nurul Himmah. Dokumen pribadi
Pengamat Mode UNY Laila Nurul Himmah. Dokumen pribadi

JOGJA - Pengamat mode Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Laila Nurul Himmah menyoroti tren penggunaan khiban tidak lagi sekadar menjadi pelengkap pakaian ibadah.

Melainkan telah bergeser menjadi sebuah lifestyle baru yang sangat digemari oleh kalangan anak muda. 

"Ketika dikenakan oleh muslimah, ia memberikan efek yang jauh lebih praktis, stabil ketika dipakai, dan terlihat lebih rapi. Ini menjadi jawaban bagi muslimah yang ingin tetap tampil modis, efisien, sekaligus fashionable," ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Baca Juga: Sekretariat DPRD Kota Jogja Pelajari Sistem Teknologi Digital Kehumasan di Kota Bandung 

Lanjut Laila, model hijab instan dengan aksen tali ikat kepala ini sebenarnya bukan barang yang benar-benar baru di dunia mode Islami.

Namun, gaungnya menjadi berlipat ganda akhir-akhir ini berkat peran aktif para konten kreator dan influencer di berbagai platform media sosial. 

Konten-konten kreatif seputar tutorial daily hijab sukses mengemas ulang khiban menjadi produk yang sangat memikat mata. Hal inilah yang memicu gelombang ketertarikan masif, terutama dari kalangan perempuan muda yang tergolong dalam generasi milenial dan Gen Z.

Baca Juga: Tren Khiban Mulai Menguat dari Fashion Statement Menuju Gaya Hidup Muslimah, Selmadena: Fleksibel tapi Sesuai Syariat

"Mereka adalah kelompok yang mengikuti tren fesyen, namun juga mendambakan kenyamanan dan aspek fungsional. Jadi lebih praktis digunakan, nyaman, dan tetap ada nilai religiusnya karena tetap syar'i," cetus Dosen Program Studi D4 Tata Busana Fakultas Vokasi UNY itu. 

Terkait urusan perpaduan style, Laila menepis anggapan bahwa khiban memiliki pakem kaku yang mengharuskan pemakainya mengenakan gamis.

Menurutnya, di era modern ini, koridor fesyen telah bergeser menjadi sesuatu yang sifatnya sangat personal dan bebas dieksplorasi sesuai karakter masing-masing individu.

Baca Juga: Gagal Temui Seluruh Fraksi DPRD DIY, Mahasiswa Ancam Eskalasi Massa Lebih Besar Pekan Depan

Laila menegaskan, keserasian khiban itu sebenarnya bersifat sangat luwes. Hijab ini tetap bisa tampil menawan saat disandingkan dengan tunik, atasan muslimah kasual, hingga dipadukan dengan berbagai macam model rok bawahan.

Kendati menawarkan fleksibilitas yang tinggi, khimar bandana ini dinilai memiliki batasan tersendiri. Karakter desainnya yang santai dan mengutamakan kepraktisan membuatnya lebih condong ke ranah kasual. 

Menurut Laila, khiban sangat ideal menemani aktivitas harian dengan mobilitas tinggi seperti kuliah di kampus, bekerja di kantor, hingga agenda santai seperti travelling. Namun, untuk acara yang bersifat sangat formal, penggunaan khimar jenis ini dirasa kurang pas.

"Untuk busana formal mungkin kurang cocok digunakan," tambahnya. (ayu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#khimar bandana #khiban #syar'i #lifestyle baru #praktis