JOGJA - Fenomena penggunaan khiban tidak lagi terbatas pada segmen pakaian syar’i. Kini meluas ke berbagai kalangan berkat pengaruh media sosial dan influencer.
Dari sisi demografi pelanggan salah satu usaha jilbab di Sleman, antusiasme pemakai produk jilbab itu mulai rentang usia muda 20 tahun hingga ibu-ibu usia 40-an.
Owner Jennamira Niken Widiyanti mengatakan, khimar jenis khiban sebenarnya sudah diproduksi oleh usahanya sejak dua tahun lalu. Namun lonjakan penjualan baru terasa signifikan dalam kurun waktu setahun terakhir.
“Memang waktu itu belum seterkenal sekarang. Pastinya tren sekarang sangat dipengaruhi oleh influencer,” ujarnya melalui sambungan telepon, Jumat (22/5/2026).
Pemilik usaha jilbab di Purwomartani, Kalasan, Sleman, itu mengungkapkan, dahulu khiban hanya dikenal di kalangan produsen pakaian syar’i. Kemudian berkat padu padan gaya yang ditampilkan para influencer di media sosial, kini salah satu jenis khimar itu menjadi pilihan modest fesyen yang digemari banyak kalangan.
“Sekarang, bahkan modest fesyen yang niche-nya bukan pakaian syar’i pun akhirnya ikut menggunakan khiban. Mereka memadukannya dengan gaya yang lebih fleksibel, tidak melulu dengan gamis syar’i,” jelasnya.
Mengenai harga khiban, Niken menyebut variasi harga di pasaran sangat bergantung pada kualitas bahan yang digunakan. Di Jennamira sendiri produk tersebut dibanderol dengan kisaran harga Rp 150.000 hingga Rp 200.000.
Sebagai informasi, Jennamira telah memasuki tahun ketiga dalam industri fesyen syar’i. Sebelumnya mereka beroperasi di Jakarta, namun usaha tersebut kini menetap di Jogja selama satu tahun terakhir dengan layanan penjualan pasar lokal dan nasional secara daring maupun langsung.
“Kalau dulu produk best seller kami adalah french khimar, kini penjualan tertinggi bergeser ke khimar bandana,” jelas Niken. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita