RADAR JOGJA - Dunia perkuliahan itu penuh dengan istilah unik.
Kalau anda baru masuk kuliah atau sedang menjalani semester pertengahan, anda pasti sudah tidak asing lagi dengan sebutan mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang) dan kura-kura (kuliah-rapat).
Dua istilah ini sering kali dijadikan label untuk menggambarkan gaya hidup mahasiswa di kampus.
Baca Juga: Hugo Broos Pertanyakan Aturan VAR Yang Berbeda untuk Lionel Messi dan Themba Zwane
Si Kupu-Kupu: Fleksibel dan Fokus pada Target Akademik
Mahasiswa kupu-kupu sering kali mendapat stigma individu yang pasif atau kurang bersosialisasi.
Padahal, pilihan untuk langsung pulang setelah jam kuliah selesai tidak selamanya buruk.
Banyak mahasiswa tipe ini yang memilih langsung pulang karena memiliki prioritas lain di luar kampus.
Setiap mahasiswa punya latar belakang yang berbeda.
Mahasiswa kupu-kupu biasanya punya waktu ekstra untuk fokus pada nilai akademik (IPK), mengikuti kursus daring, bekerja paruh waktu (part-time), atau bahkan merintis usaha sendiri sejak muda.
Baca Juga: Jejak Kasus Eddy Tansil: Kronologi Pelarian hingga Penyitaan Aset Miliaran Rupiah oleh Kejagung
Kelebihannya yakni fokus tidak terbagi dengan urusan birokrasi organisasi, sehingga pengerjaan tugas kuliah bisa maksimal.
Sedangkan tantangan yang dialami, jika waktu di rumah hanya dipakai untuk bermalas-malasan, mereka akan melewatkan kesempatan membangun relasi yang luas.
Si Kura-Kura: Kaya Pengalaman dan Matang secara Sosial
Di sisi lain, ada mahasiswa kura-kura yang jadwal hariannya padat merayap.
Selesai dosen menutup kelas, mereka langsung meluncur ke ruang sekretariat organisasi atau ruang rapat untuk membahas program kerja terbaru.
Keaktifan dalam berorganisasi sangat membantu mahasiswa dalam mengasah kemampuan interpersonal (soft skills).
Baca Juga: Viral Mahasiswa UMY Amankan Intel Diduga Menyusup ke Kampus, Polda DIY: Anggota Kami yang Bertugas
Mulai dari kepemimpinan, kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), hingga penyelesaian masalah.
Pengalaman kerja tim seperti ini menjadi modal yang sangat bagus untuk menghadapi dunia kerja yang dinamis.
Kelebihannya yakni memiliki kenalan dari berbagai jurusan, fakultas, bahkan alumni yang sudah bekerja dan terbiasa menghadapi tekanan dan mengelola ego banyak orang dalam satu tim.
Sedangkan tantangan yang kerap dialami yaitu terlalu banyak mengambil agenda kegiatan sering kali membuat mereka kelelahan fisik dan mental, hingga akhirnya mengorbankan nilai akademik.
Menariknya, kedua tipe ini punya potensi stresnya masing-masing.
Mahasiswa kura-kura rentan mengalami stres berat ketika tugas kuliah menumpuk di tengah-tengah puncak kesibukan organisasi.
Sementara itu, mahasiswa kupu-kupu juga bisa mengalami kecemasan sosial atau minder ketika melihat teman-temannya sibuk berprestasi atau aktif di luar kelas, ditambah adanya kekhawatiran tersendiri mengenai persaingan dunia kerja karena merasa kurang pengalaman.
Sebenarnya tidak ada tipe yang lebih superior di antara keduanya.
Baik menjadi kupu-kupu maupun kura-kura, semua kembali ke bagaimana cara anda mengembangkannya. Kuncinya ada pada manajemen diri dan skala prioritas.
Jika anda memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu, pastikan waktu luang diisi dengan kegiatan produktif seperti magang mandiri atau belajar keahlian baru.
Sebaliknya, jika anda memilih menjadi kura-kura, jangan sampai melupakan kewajiban utama untuk lulus dan menyelesaikan tanggung jawab akademik.
Editor : Meitika Candra Lantiva