Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lelah Mental karena Pacaran? Jangan-Jangan Kamu Sedang Berada di 'Toxic Relationship

Tita Aurelia Pitaloka • Minggu, 7 Juni 2026 | 13:14 WIB
Ilustrasi pacaran
Ilustrasi pacaran

YOGYAKARTA — Hubungan romantis idealnya menjadi tempat yang aman untuk saling bertumbuh, berbagi kasih, dan memberi dukungan. 

Namun, tidak sedikit hubungan yang justru berbalik menjadi panggung yang melelahkan secara emosional dan mental. Fenomena ini akrab disebut sebagai toxic relationship atau hubungan beracun.

Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak di dalamnya. Sering kali, perilaku beracun dari pasangan disalahartikan sebagai bentuk "rasa sayang yang mendalam" atau sekadar bumbu-bumbu drama percintaan biasa.

Lalu, bagaimana cara mengenali bahwa hubungan Anda sudah tidak lagi sehat?

Baca Juga: Sentuh Hati Penggemar, Taylor Swift Bagikan Video Masa Kecil Berbaju Koboi Sambut Lagu Toy Story 5

Tanda-Tanda Merah atau Red Flag yang Wajib Diwaspadai

Para pakar psikologi menyebutkan ada beberapa indikator utama yang menunjukkan sebuah hubungan telah berubah menjadi racun bagi kesehatan mental Anda:

1. Mengontrol & Mengekang Secara Berlebih

Pasangan mulai mengatur dengan siapa Anda boleh berteman, apa yang harus Anda kenakan, hingga membatasi ruang gerak Anda untuk berkembang atau melakukan hobi.

2. Cemburu Berkedok Rasa Sayang

Cemburu memang wajar, namun jika cemburu tersebut berujung pada tuduhan tanpa bukti, pemeriksaan ponsel secara berkala secara paksa, hingga isolasi dari keluarga, itu adalah tanda bahaya.

3. Ketidakseimbangan Komunikasi (Gaslighting)

Selalu menyalahkan atas setiap konflik yang terjadi. Pasangan sering kali memanipulasi kebenaran hingga membuat Anda meragukan ingatan, persepsi, atau kewarasan diri sendiri.

4. Merasa Lelah secara Emosional

Alih-alih merasa bahagia dan berenergi setelah menghabiskan waktu bersama, Anda justru merasa cemas, tertekan, atau kehilangan rasa percaya diri (low self-esteem).

Baca Juga: Ousmane Dembele Ungkap Prancis Ingin Mengakhiri Masa Kepemimpinan Didier Deschamps dengan Trofi Piala Dunia 2026

Dampak Nyata terhadap Kesehatan Mental

Bertahan dalam hubungan yang tidak sehat bukan tanpa konsekuensi. Berbagai riset psikologi menunjukkan bahwa korban toxic relationship rentan mengalami gangguan kecemasan (anxiety), stres kronis, hingga depresi.

Dalam jangka panjang, seseorang bisa kehilangan identitas dirinya karena terus-menerus menekan ego dan keinginannya demi menyenangkan pasangan (people pleasing).

Salah satu psikolog klinis mengungkapkan bahwa hubungan sehat (Healthy Relationship) dibangun di atas fondasi rasa hormat yang setara. Jika ketika salah satu pihak terus menerus mengorbankan kebahagiaan atas dirinya sendiri demi menjaga perasaan pasangan, itulah masa dimana hubungan sudah kehilangan esensinya.

Bagaimana Cara Keluar dari Lingkaran Setan Ini?

Keluar dari hubungan beracun memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, terutama jika sudah ada keterikatan emosional yang mendalam. Namun, langkah pertama yang bisa diambil adalah menyadari dan menerima kenyataan bahwa hubungan tersebut memang merusak.

Langkah selanjutnya adalah membangun benteng dukungan (support system) dengan menceritakan kondisi Anda kepada sahabat tepercaya atau keluarga terdekat.

Baca Juga: Hasil Argentina vs Honduras, Lionel Messi Penghangat Bangku Cadangan, La Albiceleste Menang 2-0

Jangan ragu untuk menetapkan batasan yang tegas (boundaries) dan, jika diperlukan, ambillah keputusan berani untuk mengakhiri hubungan demi menyelamatkan kesehatan mental Anda sendiri.

Ingatlah bahwa mencintai orang lain tidak boleh membuat Anda kehilangan cara untuk mencintai diri sendiri. Kebahagiaan dan kedamaian pikiran Anda adalah prioritas utama yang tidak bisa dinegosiasikan oleh siapa pun. 

Editor : Bahana.
#toxic relationship #pacaran