JOGJA - Generasi yang mengenyam pendidikan era 1990-an hingga awal 2000-an tentu tidak asing dengan lomba cerdas cermat.
Di masanya, kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan di sekolah sekaligus ajang pembuktian kemampuan akademik siswa, hal tersebut turut terjadi di DIY.
Tidak hanya menjadi kompetisi antarsekolah, cerdas cermat juga menjadi simbol prestasi.
Sekolah-sekolah berlomba menyiapkan tim terbaik melalui proses seleksi dan pembinaan yang cukup serius.
Siswa yang terpilih menjadi kebanggaan tersendiri karena dianggap mewakili kemampuan akademik sekolah.
Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY Suci Rohmadi mengatakan, bahwa cerdas cermat merupakan salah satu kegiatan yang sangat lazim digelar saat itu.
"Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, lomba cerdas cermat menjadi salah satu kegiatan yang sangat populer di sekolah," ujarnya, Sabtu (30/5/2026).
Baca Juga: Kabar Baik bagi Arsenal Jelang Final Liga Champions Melawan PSG, Jurrien Timber Siap Tampil
Menurut Suci, tingginya antusiasme terhadap cerdas cermat turut mendorong semangat belajar siswa.
Persiapan menghadapi perlombaan membuat peserta terbiasa memperluas wawasan, memperdalam materi pelajaran, hingga berdiskusi dengan teman maupun guru pembimbing.
Suasana kompetisi yang kuat juga menjadi faktor yang membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat.
Tidak sedikit peserta yang rela meluangkan waktu tambahan di luar jam pelajaran untuk mempersiapkan diri menghadapi perlombaan.
Baca Juga: Wujudkan Mimpi Masa Kecil untuk Gabung Barcelona, Anthony Gordon: Mimpi Yang Menjadi Kenyataan
"Kegiatan tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap semangat belajar para siswa," katanya.
Selain memperkuat penguasaan materi pelajaran, Suci menilai cerdas cermat juga memberi manfaat lain yang masih relevan hingga saat ini.
Kegiatan tersebut melatih kemampuan berpikir cepat, kerja sama tim, keberanian menyampaikan jawaban, dan kemampuan mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Di sisi lain, kehadiran lomba cerdas cermat juga turut membentuk budaya akademik yang positif di sekolah.
Banyak sekolah menggelar seleksi internal sebelum menentukan wakil terbaiknya.
Bahkan, peserta cerdas cermat kerap menjadi panutan bagi siswa lain.
"Banyak sekolah mengadakan seleksi internal, dan tidak sedikit siswa yang menjadikan peserta cerdas cermat sebagai role model," ungkapnya.
Secara garis besar, Suci berkeyakinan dampak positif tersebut tidak berhenti saat siswa masih berada di bangku sekolah.
Kebiasaan belajar disiplin, berpikir analitis, dan berkompetisi secara sehat menjadi bekal yang bermanfaat hingga mereka dewasa.
"Jika dikaitkan dengan prestasi, kegiatan seperti ini memiliki kontribusi yang baik karena mendorong siswa terbiasa belajar lebih disiplin dan kompetitif secara sehat," jelasnya.
Meski saat ini dunia pendidikan mengalami banyak perubahan akibat perkembangan teknologi digital, Suci menilai nilai-nilai yang terkandung dalam cerdas cermat tetap relevan.
Hanya saja, bentuk pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan karakter generasi saat ini.
Menurutnya, konsep cerdas cermat dapat dikembangkan melalui platform digital, kuis interaktif, maupun kegiatan yang menggabungkan unsur literasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Karena itu, ia berharap semangat belajar yang menyenangkan dan kompetisi sehat yang pernah tumbuh kuat melalui cerdas cermat pada era 1990-an hingga awal 2000-an dapat terus dipertahankan dan dikembangkan dalam berbagai bentuk pembelajaran masa kini.
"Meski saat ini pola pembelajaran sudah berubah dan generasi muda lebih dekat dengan teknologi digital, esensi cerdas cermat sebenarnya masih sangat relevan," tegasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva